Java Jazz Festival 2007
Java Jazz Festival
Jakarta Convention Center 2-4 Maret 2007
Festival musik Jazz terbesar di Indonesia. Ini
adalah tiga hari di mana pesta sebuah eksistensi.
Java Jazz Festival kali ini adalah penyelenggaraan yang ketigakalinya.
Sebelum festival ini dimulai, banyak kabar polemik terutama soal harga
tiket yang mahal hingga minimnya antusiasme orang-orang. Namun,
festival ini tetap hadir di tengah eksistensinya dan memberikan pesta jazz
selama tiga hari berturut-turut.
Udara Jakarta waktu itu tidak begitu panas, dan hujan pun seringkali hadir.
Di jalanan pun terlihat nuansa bekas banjir di mana terlihat lumpur atapun
kerusakkan akibat bencana ini. Tapi kamu masih bisa melihat poster
ataupun flyer Java Jazz menghiasi di mana-mana. Sebelum masuk JHCC saja,
deretan umbul-umbul Java Jazz seolah mengucapkan selamat datang,
sedangkan mobil-mobil mengantri panjang seperti deretan semut tapi
penuh warna-warni.
Hari pertama menghadirkan beberapa penampil seperti Level 42,
saxophonis dan legenda Jazz asal Jepang Sadao Watanabe, legenda jazz
Level 42, Tortured Soul, sedangkan list penampil musisi lokalnya antara lain
Ecoutez, Balawan Trio, Humania feat. Marcell, Indonesian Voive Of Soul
(Ello, Rio Febrian, Mike Angga, dan Pasto) dan masih banyak lagi. Sementara
itu special show di hari pertama menghadirkan Sergio Mendes. Btw, di event
ini terdapat 15 stage (Plenary Dji Sam Soe Music Dome, Stage 1 BNI,
Exhibition Hall B Astro, Cendrawasih 2&3 Simpati, Cendrawasih 1 Embassy
Club, Assembly 1 Telkomsel, Assembly 2 Astro, Assembly 3, Merak 1&2
Femina, Kasuari Lounge Garuda, Lobby Stage 1 Kompas & Converse, Lobby
Stage 2 Vitazone & Jakarta Post, Lobby Stage 3 Medco, OZ Mobil Stage Klab
Jazz Talents, dan F&B Jazz Community Stage). Semua orang dibebaskan
untuk mengikuti stage manapun yang disukasinya sesuai dengan daftar list
musisi yang pengen ditontonnya. Untuk itu panduan tentang stage dan juga
jadwal musisi yang maen memang diperlukan banget.
Selain kumpulan stage, jika perut terasa lapar, di sebelah kanan pintu
masuk terdapat ruang makan yang menyediakan berbagai menu.
Pembelipan pun mesti lewat token (semacam koin untuk ditukar dengan
uang asli). Sementara itu, beberapa bboth merchandise tersebar rapi di
beberapa tempat. Dan tampak kerumunan orang membeli berbagai
merchandise seperti topi, kaus, mug, sweater, dll.
Tak berbeda jauh dengan hari pertama, hari kedua pun menghadirkan
kemeriahan yang sama. Sayang antusiasme itu justru diapresiasi berbeda.
Ketika saya coba-coba tanya pada orang-orang siapa band atau musisi yang
lagi tampil, banyak orang yang menggeleng tidak tahu. Atau seberapa jauh
mereka mengetahui musisi tersebut, banyak yang menjawab tidak tahu
pula. Banyak pula yang beranggapan ke Java Jazz ini hanya sekedar eksis-
eksisan doang. Hmmm…
Di hari kedua ini banyak yang menunggu penampilan John Scofield di Telkomsel
Stage. Penampilan gitaris ini memang mantap terutama dengan sampling
tambahan membuat musik jazznya tidak tampak membosankan. Selain itu
musisi-musisio jazz lainnya yang menjadi daya tarik perhatian yaitu David Benoit,
Gino Vanelli, Marcus Miller, Diane Schuur, dll. Untuk musisi lokalnya, yang paling
ditunggu malam itu adalah Jopie Item and Friends yang mengajak Trie Utami dan
Rien Djamin. Apalagi penampilan ini menarik perhatian komunitas Maluku
segala. Pokoknya chauvinis banget….
Malam kedua ini special shownya adalah Chaka Khan, tapi saya justru lebih
memilih menonton penampilan dari Lisa Ono. Melihat musisi Jepang ini bernyanyi
mengingatkan saya pada musikalitas ala Astrud Gilberto. Set musik yang panjang
dengan nuansa musikalitas yang sama sempat membuat lagu-lagu awal terlihat
keren dan menarik. Namun karena waktu yang tak bisa berkompromi, saat itu
waktu menunjukkan sudah dini hari, penampilan Yoko Ono ini pun bisa menjadi
teman nina bobo yang indah. Set berakhir saat menginjak pukul 2 malam. Dan
rasa lelah dan kantuk luar biasa ini mulai menyerang dengan sangat.
Tak bisa disangkal lagi, Jamie Cullum adalah pusat perhatian dan daya tarik di
hari ketiga ini. Untuk menonton special show dari Jamie Cullum ini, penonton
mesti mengeluarkan kocek sebesar satu juta rupiah. Dan harga itu cukup untuk
menonton pemuda asal Inggris ini mempermainkan pianonya secara ekstrim.
Sebelum Jamie Cullum main saja, antrian begitu panjang di Plenary Dji Sam Soe
Music Dome. Rencananya Jamie Cullum akan tampil pada pukul 19.45 dan
berakhir pada pukul 21.00. satu jam penuh bersama Jamie Cullum.
Mayoritas lagu-lagu yang dibawakan Jamie Cullum ada di album “Catching Tales”.
Beberapa lagu yang dibawakannya diantara lain “Get Your Way”, “London Skies”,
“Photograph”, “Catch The Sun”, dan mengcover lagu Radiohead “High and Dry”
dengan sangat manis dan jazzy di akhir lagu. Penampilan Jamie sangat atraktif. Ia
mempermainkan keyboard dengan ekstrim seperti menginjaknya, memainkan
jarinya di atas tuts seperti Ben Johnson lari di kancah Olimpiade saking cepatnya,
ataupun memainkannnya dengan pantatnya sesekali dengan posisi menduduki.
Ternyata Jamie adalah seseorang yang sangat lucu. Penampilannya itu telihat
intim dan komunikatif. Seperti ketika ia berceloteh saat banyak kamera wartawan
yang memotret dirinya, ia berujar seperti di toko elektronik atau ketika seorang
fans berteriak “I Love You”, Jamie tak lupa menjawab “I Love You too..” wah,
sekitar satu jam penampilan manis bersama Jamie ini berakhir. Encore pun
bergemuruh dan Jamie membawakan dua lagu lagi. Inilah akhir manis ditutup
dengan musikalitas manis.
Musisi berkelas lainnya yang tampil adalah Level 42. Setelah sempat tampil di hari
pertama, kali ini mereka tampil sesudah Jamie Cullum. Musisi jazz mana sih yang
nggak tahu Level 42. Dan sekitar satu jam mereka menghibur para penonton.
Musisi terakhir yang saya tonton adalah Tortured Soul. Mereka memainkan musik
hanya dengan bass, drum, dan keyboard. Bahkan drummernya itu sekaligus jadi
vokalis. Edan! pol abis. Mengajak semua orang bergoyang dengan nuansa musik
drum n bassnya. Setelah sekitar satu jam, penampilan mereka usai sudah. Sayang
tanpa encore. Mereka berlalu begitu saja sambil melempar-lemparkan CD ke
penonton. Yup, tiga hari inilah eksistensi pesta musik jazz dan kini usai sudah.
Secondary Stage Review Of Java Jazz
VIKTER DUPLAIX
Mmmhhh.. mungkin setelah Tortured Soul, ini adalah
salah satu musisi jazz yang cukup cutting-edge di Java
Jazz ini. Bayangkan, Vikter melakukan cek-sound pada
saat tampil dan menanyakan pada penonton “is the
drums sounds okay to you?”, how cool is that? Lalu
setelah beberapa lagu, dia juga menyelipkan beberapa
nomor chill-out dan hampir setengah nya penonton
berpasangan di ruangan itu langsung make-out. Sebelum turun, Dj, Vokalis
segaligus percussionist ini membagikan beberapa cd nya ke penonton “hey,
here’s some music for making love to..”. this guy rules.
JOHN SCOFIELD
Ahh.. yang ini cukup lucu. Setelah melihat antrian
yang sangat panjang sekali, gue sempet nanya ke
beberapa orang yang ngantri dibelakang, “ini antrian
apa?” 4 atau 5 orang yang gue Tanya ngejawab, “ohh
gatau nih.. ya ikut-ikutan ngantri aja deh, kayanya rame..”. how fucked up is
that? Lalu setelah tau ini antrian John Scofield, yang konon sering
menggunakan sampling dan efek delay, gue langsung masuk . ok,
drummernya mengenakan baju Run DMC dan set drum nya sangat full. Dia
main drum seperti robot dan suara mesin sampling. Tapi sang maestro John
Scofield justru membuat gue tertawa setelah melihat ekspresi muka nya yang
terkesan seperti sedang ML dengan gitarnya.. hey, get a room MR !
TORTURED SOUL
Ahh gue telat dan cuma sempat
mendengar 3 lagu saja.. sedikit
mengingatkan pada French Kicks
karena drummernya nyanyi juga.
Mereka sedikit eclectic karena
menggabungkan disko 80an ala Zoot
Woman dengan Jazz ringan, sedikit
elemen French-pop ala Phoenix, Tahiti
80 dan Gainsbourg mungkin? Dan
tentunya SOUL. Pas gue berusaha ngefoto
dari depan panggung dan melewati security di luar taunya mereka sudah
bubarrr.. yah gue cuma sempet ngefoto beberapa kali saja. Ffuuukk!
B-Side Of Java Jazz: How Jazz Are You?
Nadine Chandrawinata
Ngapain lu datang ke Java Jazz?
Yah, karena pada dasarnya gw suka ama jazz.
Terus siapa yang lu pengen lihat di Java Jazz saat ini?
Gw sih pengen nonton yang lokal-lokal saja kayak Ruth Sahanaya atau
Titi DJ. Tapi sekalian juga sih nonton musisi luarnya kayak Diana Schuur, atau siapa
tuh yang band instrumental gw lupa lagi.
Sebenarnya menurut lu pribadi, diri lu itu seberapa jazz sih?
Kalo dibandingin ama pop sih gw emang suka jazz. Tapi nggak terlalu jazzy banget.
Gw sih musik jazznya lebih prefer ke yang vokal gitu dibanding ama musik jazz
instrumental. Tapi gw bilang sih, jazz emang sering banget jadi peneman hari-hari
gw. Mau tidur dengerin jazz, mau nyetir dengerin jazz, pokoknya gw suka musik
yang gw sendiri bisa nyanyiinya.
Band cadas yang lu dengerin apaan?
Kalau Good Charlotte gw masih dengerin. Begitupula dengan My Chemical Romance
sih gw masih bisa dengerin. Kecuali musik yang wah… cadas banget gw nggak bisa
nerima.
==Ripple Comments:
Mendengarkan musik jazz setiap hari memang bagus buat kondisi badan. Tapi
awas.. mendengarkan musik cadas banget juga bagus untuk kondisi badan
dibandingkan dengan Good Charlotte dan My Chemical Romance. Girls… your taste
of music rock is really-really bad!!!
Jazz-O- Meter: 4 of 5
Roy
Om, kesini ingin nonton siapa?
Yah, pengen nonton band anak-anak Maluku yang main di sini.
Pokoknya lebih pengen nonton yang lokal-lokal saja.
Kalau band luarnya pengen nonton siapa?
Ah, sudah terlalu banyak. Sudah bosan juga saya. Karena saya dari
Belanda jadi udah agak bosan kalau dengan musisi luarnya hahaha…
Jadi saya kesini lagi liburan aja. Sekalian aja nonton Java Jazz.
==Ripple Comments:
Si Om ini lebih pantas berada di konser Megadeth dibandingkan
dengan konser Jazz. Tapi salutlah dengan rasa kekeluargaan yang
ada dalam diri si Om Roy ini. good!!
Jazz-O- Meter: 5 of 5
Diki
Ngapain lu datang ke Java Jazz? Terus apa ada hubungannya
dengan Queen?
Ehhhh… karena Queen itu legendaris dan musik jazz juga
legendaris. Jadi ada hubungannya kan yaitu sama-sama legendaris.
Ergghhh… Gak nyambung. Btw, siapa sih yang pengen lu tonton?
Gw sih pengen nonton Dave Wekcl ama Marcus Miller.
Sebenarnya menurut lu pribadi, diri lu itu seberapa jazz sih?
Gw anggap jazz itu jadi inspirasi. Karena gw juga ngeband dan jadi drummer, gw
pikir jazz itu berskill banget. Kalo antara 1-10 pokoknya jazz itu 10 bintang lah.
Sempurna banget jazz.
==Ripple Comments:
Meskipun jawabannya gak nyambung, tapi keinginannya buat nyuri referensi dari
musisi-musisi jazz memang langkah berani. Melihat dari referensinya…
lumayanlah!
Jazz-O- Meter: 3 of 5
Alex Abad
Ngapain lu datang ke Java Jazz?
Terus terang aja sebenarnya gw ini buronan. Karena saya masuk
tanpa tiket. Pura-pura jadi anak band dengan minjem stik drum punya
temen terus ngomong ke penjaga bahwa gw ngeband. Yah, wajarlah.
Siapa yang pengen lu tonton di Java Jazz ini?
Banyak. Hampir semuanya. Daftarnya sih gw lupa, padahal di rumah udah bikin list
yang mau ditonton tapi gw lupa bawa listnya. Tapi gw anggap ini arisan terbesar
yang gw hadiri.
Wah dari penampilan lu, tampaknya lu jazz banget nih?
Waduh… kalo gw jawab gw takut ntar lu menuduh. Ok, bayangannya gini aja. Kan
orang-orang pada bayar masuk ke festival ini sedangkan gw nggak. Kalo dari urutan
1-10, kadar jazz gw sih sekitar 8 bintang. Itu jujur dari hati gw.
Kalo gitu band paling keras yang ada di music player lu apaan?
Semuanya sih tergantung volumenya aja. Iya kan?
Terserah lu deh, eh kayak tadi seseorang bilang ke lu bahwa lu dari Timur
Tengah, nah Jazz di Timur Tengah itu seperti apa?
Jangan salah pak… gw mesti mulai dari mana dulu? Mulai dari Afrika Utara, Arab
Utara, hingga ke Persia. Semua mesti balik aja dulu. Kayak pengertian jazz itu
apaan? Jazz itu menurut gw bisa dibilang maennya bareng, tujuannya bareng
cuman caranya aja beda. Nah, musik Arab semuanya kayak gitu. Sebenarnya banyak
definisi yang mesti diejawantahkan. Kayak pengertian musik blues sendiri itu apa?
Menurut gw lagu Es Lilin itu blues, cuman belum banyak orang yang tahu. Nah, lagu
Burung Kakatua juga itu jazz. Karena kita warga Indonesia jadi pada belum ngeh.
Kalau lu ngomong jazz wah… luas banget.
Ada yang berkesan dengan Java Jazz ini?
Ada senengnya ada juga sedihnya. Senengnya sih sekarang masyarakat Indonesia
udah bisa mengapresiasi. Dan gw pikir mereka udah pantas ngedapetinnya tapi
sedihnya gw nonton Java Jazz ini sendirian men, nggak ada cewek di sebelah gw.
==Ripple Comments:
Wow… penggemar Jazz Timur Tengah ini menggemparkan Java Jazz Festival
dengan hadir sebagai buronan. Sayang, analogis musiknya payah.
Jazz-O-Meter: 5 of 5
SOUNDSHINE DIMENSIONS 2007
SOUNDSHINE DIMENSIONS 2007
I Love You and You Love Me,We’re Gonna Make a Big Family
Sore – No Fruits for Today
Hotel Nikko, Jakarta, 10 Maret 2007
Melanjutkan kejayaan Kings of
Convenience tahun lalu, Soundshine
kembali dengan bintang utama Club 8 dari Swedia dan Sondre Lerche dari Norwegia.
Dua band representasi Indonesia adalah Sore
dan Homogenic. Acara ini digelar Sabtu (10/3) di
Upper Room, Annex Building, Hotel Nikko,
Jakarta mulai pukul 17.30 hingga 23.00.
Homogenic membuka acara petang itu. Dina,
Risa, dan Dea tampil dengan kostum putih
merah dan tampak lebih berenergi. Lima lagu
dari Echoes of the Universe dan Epic Symphony
pun dibawakan dengan konsep yang berbeda,
full band dengan additional drum dan bas.
Setelah penampilan Homogenic yang kurang
mendapat respon meriah dari penonton, Sore
menaiki panggung.
Empat penyanyi latar dan tiga pemain
saxophone mengikuti di belakang. Setelah
sebuah lagu baru, Somos Libres, Lihat, dan dua
lagu dari album Centralismo lainnya dibawakan,
mereka menutup penampilan dengan No Fruits
for Today sebagai perwujudan encore yang
dielukan penonton.
Setengah jam kemudian, Club 8 tampil mengisi
acara. Karolina dan Johan bersama band yang
yang mereka bawa membuka performanya
dengan The Next Step You’ll Take. Ekspektasi
para penggemar sangat tinggi dan penampilan
mereka pun memenuhi ekspektasi itu.
Sayangnya, tata suarayang merupakan faktor
penting dalam sebuah pertunjukan musiktidak
berbanding lurus dengan ekspektasi dan
performanya. Feedback dan ketidakseimbangan
sound per instrumen mendominasi.
Ini adalah penampilan ke-13 Club 8 di depan
publik sejak 12 tahun eksistensi mereka di kancah
permusikan. Tiga kali Karolina berusaha
mengucapkan terima kasih dalam bahasa
Indonesia. Bahkan ia berkata, ”You guys almost
make me cry,” karena apresiasi para penonton
yang begitu besar dengan ikut bernyanyi bersama.
Everlasting Love, All I Can Do, Love in December
mewarnai rangkaian set list mereka malam itu.
Setelah sejam penuh, Tomorrow Never Comes
menutup penampilan mereka.
Tak sampai semenit, taktik encore standar
diupayakan. Karolina nampaknya sudah cukup
paham bahwa yang mereka lakukan sangat
umum. ”I think we’re back too soon, huh?” kata
Karolina sekembalinya ke panggung yang sempat
mereka tinggal beberapa detik itu. We’re Simple
Minds dan Missing You pun dibawakan.
Sondre Lerche membuka penampilannya dengan
penuh energi. Sambil berloncat-loncat dengan
menggendong gitarnya, ia memasuki panggung
bersama The Faces Down sambil membawakan
Airport Taxi Reception dari album terbaru mereka,
Phantom Punch.
Album baru ini mengandung nuansa rock yang
sangat kental. Soundshine yang merupakan
Phantom Punch World Tour Leg 1 tentu saja
membuat penampilan Sondre Lerche malam itu
nge-rock pula. Lagu-lagu dari Two Way Monologue
dan Faces Down pun diaransemen ulang senuansa
dengan Phantom Punch. Bahkan Duper Sessions,
album pop/jazz terakhirnya, juga dibawakan
dengan aransemen rock.
Tidak hanya aransemennya, atittude Sondre
Lerche malam itu pun cukup nge-rock. Beberapa
kali ia meloncat-loncat hingga tertidur di dasar
lantai panggung dengan kaki bersilah sambil
memeluk sekaligus memainkan gitarnya.
Beberapa nomor seperti Minor Detail, Track You
Down, Modern Nature dibawakan superatraktif
dengan berbagai improvisasi yang membuat
penonton terkesima. The Faces Down pun
berperan aktif mengikuti improvisasi-improvisasi
yang dibuat Sondre Lerche. Saking berenerginya,
Sondre Lerche harus berganti gitar sebanyak tiga
kali karena mengalami putus senar.
Setelah lebih dari satu setengah jam membawakan
total 18 lagu, Sondre Lerche pamit dengan
Phantom Punch, single pertama album barunya.
Setelah itu, Sondre Lerche dan The Faces Down
meninggalkan panggung. Seperti biasa, teriakanteriakan,
“We want more!” meliputi seisi hall.
Lagi-lagi trik encore dikeluarkan, namun kali ini tak
sekilat Club 8. Sondre Lerche dan The Faces Down
kembali ke panggung setelah beberapa menit
membiarkan panggung kosong dengan teriakanteriakan
penonton meminta encore. “You have to
be careful of what you wish for, ’cause we can play
forever,” ujar Sondre Lerche menjawab teriakanteriakan,
“we want more” dari penonton. John, Let
Me Go, Sleep on Needles, dan Two Way Monologue
yang mengangkat nama singer/songwriter berusia
24 tahun ini menutup penampilannya setelah dua
jam penuh bermain total 22 lagu. Rangkaian acara
Soundshine 2007 pun berakhir memuaskan.
SABUGA, Bandung, 11 Maret 2007
words.aditdemon
pic.idharrez
Tidak seperti event sebelumnya yang digelar di
Dago Tea House, acara kali ini di adakan di Sasana
Budaya Ganesha (SABUGA). Menurut info yang saya
dapet itu acaranya mulai jam lima sore, supaya
nggak telat saya dateng ke Sabuga jam empat.
Begitu saya sampai, di sekitar venue sudah ada
orang-orang yang berkumpul, entah itu kru media
lain dan penonton yang sudah nggak sabar mau
nonton performance Club 8 dan Sondre Lerche
yang biasanya hanya bisa ngdengerin lagu-lagunya
di kaset atau CD nya aja.
Mendekati pukul lima, belum ada tanda-tanda acara
akan di mulai. ”Wah,pasti ngaret nih!” pikir saya.
Penonton pun nggak begitu banyak bertambah
sampai jam lima. Kayaknya banyak orang yang
keburu kehabisan uang karena mungkin
sebelumnya mereka menyaksikan MUSE yang
menggelar konser di Jakarta. Lagipula harga tiket
sebesar Rp.300.000 membuat orang-orang banyak
mikir untuk membelinya. Lain halnya dengan
Soundshine Dimensions sebelumnya yang sukses
membawa Kings of Convenience yang memang
sedang naik daun lewat albumnya, Riot on an
Empty Street, Club 8 dan Sondre Lerche tampaknya
belum banyak dikenal oleh orang-orang di
Indonesia, kecuali mereka yang memang sudah
membeli album-albumnya, dan itu pun rasanya
tidak terlalu banyak. Club 8 sempat digemari lewat
album kedua mereka, The Friend Once I Had, yang
dirilis di Indonesia oleh FFWD records. Sedangkan
Sondre Lerche rasanya ‘hanya’ dikenal lewat
lagunya yang berjudul, Two Way Monologue yang
pada tahun 2004 lalu sempat ngehits.
Acara hasil kerjasama Dunhill, Aksara dan FFWD
records ini akhirnya baru dimulai pukul 19.15, dan
dibuka oleh penampilan SORE. Band asal Jakarta ini
cukup sukses dengan albumnya yang berjudul
‘Centralismo’, dan dinobatkan oleh TIME Magazine
sebagai ‘One of Five Asian Album Worth Buying’.
Membawakan kurang-lebih enam buah lagu, SORE
menampilkan hits-hits mereka seperti Cermin, No
Fruits for Today, dan Pergi Tanpa Pesan
(OST.Berbagi Suami).
Tongkat estafet dilanjutkan pada Homogenic, band
electronic-pop asal Bandung yang telah merilis
album kedua mereka, Echoes of the Universe, pada
tahun 2006 lalu. Kali ini Homogenic tampil lebih
segar dengan menghadirkan additional player pada
posisi drum dan bass. Selain itu, mereka juga
menampilkan dancer dan pemain pantomim, keren!
Homogenic membawakan lima buah lagu,
termasuk diantaranya Utopia dan Untukmu
Duniaku.
Acara break sebentar menunggu Club 8 yang akan
perform selanjutnya mempersiapkan alat-alatnya di
stage. Penonton yang keluar meninggalkan venue
sebagian besar berkumpul di lounge untuk
merokok, membeli makanan dan minuman, atau
sekedar mengobrol bersama kawan-kawan. Saya
sendiri terlibat obrolan yang cukup seru bersama
Wojtek, orang Polandia yang datang ke Bandung
untuk melakukan penelitian tentang scene musik di
Indonesia. Dia tampak cukup apresiatif
menyaksikan band-band Indonesia yang
menurutnya bagus-bagus. Lucunya, banyak yang
mengira si Wojtek itu adalah Sondre Lerche karena
tampangnya memang agak mirip.
Sekitar setengah jam kemudian Club 8 sudah onstage.
Johan Angergard datang didampingi oleh
additional player; Tom Stevenson (drum), Martin
Norman (bass), dan Helen Norman (gitar). Karolina
Komstedt yang naik ke atas panggung belakangan
langsung mengambil mic dan menyapa penonton,
“Apa kabar?” ujarnya. Setelah saya perhatikan,
wajah Karolina itu rada-rada mirip dengan Pheobe
yang menjadi salah satu bintang di sitkom
Amerika, Friends, hahaha. Malam itu Club 8
banyak membawakan lagu-lagu dari album terakhir
mereka, Strangely Beautiful, yang menurut saya
agak disayangkan, kerena lagu-lagu pada album
itu tidak banyak dikenal orang sehingga
antusiasme penonton pun kurang pol.
Pada pertengahan show, penonton riuh rendah
menyambut Mocca yang tidak diduga-duga naik ke
atas pentas. Arina dkk, membawakan lagu I Would
Never bersama Karolina seperti yang terdapat
dalam album kedua Mocca, Friends. Setelah itu
giliran Club 8 featuring Arina membawakan lagu
Love In December. Mungkin karena kredit live
show mereka yang memang sangat minim, Club 8
tampak agak gagal membangun suasana yang
menyenangkan. Saya sendiri malah merasa bosan
menjelang akhir show, terlebih lagi karena
memang lagu-lagu mereka kebanyakan melankolis.
Club 8 menutup show mereka dengan
membawakan kurang-lebih 21 lagu termasuk
Saturday Night Engine, The Beauty of the Way
We’re Living, Missing You, dan beberapa lagu baru
yang bahkan mereka sendiri belum memberinya
judul.
Kembali break untuk menunggu persiapan Sondre
Lerche, penonton berbondong-bondong keluar
untuk melepaskan lelah dan penat. Yaah, kurang
lebih setengah jam berikutnya, panitia melalui
speaker mengumumkan kalau Sondre Lerche
sudah siap perform. Lerche yang mengenakan
kemeja putih dan celana jeans, didampingi oleh
bandnya, The Faces Down yang beranggotakan
Kato Adland (gitar), Morten Skage (bass), dan Ole
Ludvig Kruger (drum). Tanpa banyak basa-basi
selain mengucapkan “Selamat malam,” Lerche
langsung menggeber lagu-lagu dalam album
terbarunya, Phantom Punch, seperti; Airport Taxi
Reception, Well Well Well, The Tape, She’s
Fantastic, dan John, Let Me Go. Lerche
menampilkan permainan gitar yang mengesankan
malam itu dan kembali membawa energi positif
pada para penonton dengan iringan primitive rock
yang mendominasi hampir di seluruh lagu-lagu
pada album keempatnya.
Pada awalnya saya sempat merasa Lerche agak
‘meremehkan’ penonton karena apresiasi yang
didapatnya agak kurang. Dia tampak lebih senang
bercanda dengan para personil bandnya daripada
dengan penonton. Namun lama-kelamaan dia
tampak menyadari minat penonton yang lebih
terhadap musiknya dan kembali bermain dengan
serius. Memasuki lagu Track You Down, Lerche
mengganti gitarnya dengan gitar akustik dan
membawakan lagu folk/pop tersebut dengan sangat
bagus. Feelnya sangat berbeda daripada kita
mendengarnya dari CD. Disusul dengan lagu dari
album-album sebelumnya yaitu; Faces Down, Two
Way Monologue, dan Duper Sessions, meluncurlah
single-single manis seperti Sleep on Needles, Dead
Passengers, dan lagu balada Tragic Mirror.
“It’s really shocking to know faraway from Norway,
people was listening our song. Thank you!” ujarnya,
yang langsung disambut riuhnya tepuk tangan
penonton. Gelaran Sondshine Dimensions kali ini
memang sangat menguras energi. Rasa lelah yang
tidak terbendung lagi membuat penonton ada yang
meninggalkan venue, duduk-duduk di lantai, dan
yang masih tetap berdiripun wajahnya mulai tampak
sangat lemas. Lerche pun hanya memberikan satu
lagu tambahan saat penonton berteriak-teriak, “We
want more!”. “I’m sorry, my band is really shy, they
think you are hates them. So you have to clap your
hands to make them out,” kata Lerche menanggapi
permintaan penonton. Tidak lama setelah itu,
personil The Faces Down minus pemain drum yang
kabarnya sakit kembali ke tengah stage dan
membawakan lagu Two Way Monologue dengan
sangat terburu-buru sehingga lagu yang sangat
familiar itupun berlalu begitu saja tanpa
meninggalkan kesan. Sungguh sayang pertunjukan
yang lumayan keren itu harus ditutup dengan
antiklimaks. Event ini akhirnya selesai sekitar pukul
00.30 malam, dan penonton berjalan gontai ke
rumahnya masing-masing. Thanks for your
attention, and see you next year then…
Singapura 2007 Catatan Perjalanan Panjang Ballads of the Cliche
Romantika musibah banjir yang melanda Jakarta beberapa hari sebelumnya mewarnai
awal perjalanan panjang Ballads of the Cliché. Perjalanan panjang kami menuju Singapura
dimulai kamis (8/ 2) pagi. Kami harus melewati Batam dengan alasan efisiensi biaya.
Langit Jakarta yang tidak bersahabat pagi itu, membuat kami sudah harus berkumpul di
bandara Soekarno-Hatta pada pukul delapan pagi. Padahal pesawat kami baru dijadwalkan
bertolak menuju Batam pada pukul setengah dua belas siang. Lebih baik tiba lebih pagi
ketimbang tidak bisa menjangkau bandara pada waktu yang telah ditentukan.
Ballads of the Cliché berangkat dengan total rombongan enam belas orang. Empat belas
orang anggota band dan dua orang teman yang memutuskan untuk pergi berlibur
bersama tur ini. Atas bantuan seorang teman, kami berhasil menemukan prosedur
pengurusan bebas fiskal atas alasan misi seni dan budaya keluar negeri. Jadi, kami bisa
membawa seluruh anggota rombongan band sehari-hari.
Tidak ada masalah berarti menuju Batam. Begitu juga ketika akhirnya berlabuh di
Singapura. Kami tiba di Harbour Front, Singapura, pada pukul lima sore waktu setempat.
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Karena ini band yang cukup besar, sudah
barang tentu bawaan yang dibawa cukup banyak dari segi kuantitas. Di samping alat-alat,
kami juga membawa dua tas penuh berisi merchandise yang akan dijual di rangkaian
festival Peachy Pop!, tempat kami akan memainkan dua pertunjukan dalam tur ini.
Kami mendapatkan apartemen murah di Lucky Plaza. Apartemen yang mampu
menampung enam belas orang di dalam empat buah kamar. Lengkap dengan beberapa
kasur tambahan dan fasilitas bantal yang tidak terhitung jumlahnya. Sepertinya memang
ini merupakan tempat yang biasa digunakan oleh orang Indonesia ketika berkunjung ke
Singapura. Pembantu rumah tangga yang mengurus apartemen ini merupakan orang
Indonesia dan dia menceritakan bahwa konsumen mayoritas yang menyewa apartemen ini
adalah orang Indonesia.
Ada sedikit masalah ternyata. Ketika seluruh barang sudah diangkut ke dalam apartemen,
tas pribadi milik kru gitar, Rifa Wananda, ternyata tertinggal di pelabuhan. Alhasil, ia dan
beberapa orang terpaksa harus kembali ke pelabuhan dan mencari tas tersebut.
Beruntung akhirnya tas berhasil ditemukan.
Hari pertama tidak bisa dilewatkan begitu saja. Begitu selesai membagi kamar dan
meletakan seluruh barang bawaan, hal yang pertama dilakukan adalah mencari makan
malam dan langsung berjalan-jalan di kawasan Orchard Road. Kami terbagi dalam
beberapa rombongan kecil, dengan tujuan masing-masing.
Malam itu berakhir larut. Bahkan, beberapa dari kami masih tidak percaya bahwa akhirnya
alasan musikal membawa masing-masing anggota Ballads of the Cliché ada di Singapura.
Hari esok adalah hari pertunjukan pertama dan itu begitu dinantikan.
Berdasarkan jadwal yang telah disiapkan, kami akan bertolak menuju venue untuk
melakukan sesi check sound pada pukul dua belas
waktu setempat (9/ 2). Beberapa dari kami sudah
bangun di pagi hari untuk melakukan sesi jalan-jalan
terlebih dahulu. Pertunjukan kami akan dilakukan
dalam beberapa jam ke depan. Tidak sabar untuk
tiba di venue dan mulai beraksi. Kami akan bermain
di Esplanade, kompleks gedung pertunjukan paling
besar di Singapura.
Sesampainya di venue, rasa tercengang terekam di
hampir seluruh wajah anggota rombongan. Setting
panggung yang kami berikan kepada organiser
diikuti persis. Belum lagi ditambah kerja kru
panggung setempat yang begitu cekatan dan sangat
efisien. Hal itu membuat kru panggung reguler kami
tidak banyak bekerja.
Kejutan belum selesai, kami juga diberikan sebuah
ruang ganti berukuran sangat besar dengan akses
yang begitu terbatas untuk menunggu waktu
pertunjukan tiba. Ruang ganti yang sama sepertinya
juga digunakan oleh artis-artis dunia yang bermain
di Esplanade. Saya sendiri berpikir, mungkin Mogwai
menggunakan ruang ganti yang sama seperti Ballads
of the Cliché. Ruang ganti itu terdiri dari sekitar
empat puluh locker, satu kamar mandi besar yang
bisa digunakan oleh enam orang sekaligus, meja rias
yang bisa digunakan untuk minimal dua puluh empat
orang sekaligus, dan akses keluar masuk yang harus
menggunakan pemindai elektronik. Itu hal paling
baik yang pernah didapatkan oleh band ini.
Menjelang pertunjukan, masih ada beberapa jam
kosong yang bisa digunakan untuk berjalan-jalan.
Karena Esplanade dekat dengan City Hall,
kebanyakan dari kami memilih untuk berkeliling di
daerah itu. Termasuk mengunjungi toko rekaman
Roxy yang terkenal dengan barang-barang ‘aneh’nya.
Begitu tiba waktu pertunjukan, rasa gugup mulai
menghinggapi masing-masing anggota band. Kami
akan memainkan sembilan lagu dan dua buah lagu
pada bagian encore. Total sebelas lagu. Saya sendiri
cukup heran ketika anak-anak memutuskan untuk
memasukan encore di dalam set kita malam ini.
Sekedar catatan, encore belum pernah dilakukan
band ini sepanjang karirnya. Ini percobaan pertama.
Saya sendiri termasuk orang yang cukup pesimis
dengan taktik ini. Tapi, bagaimana pun, pertunjukan
tetap harus dilakukan.
Ballads of the Cliché menjadi headliner hari pertama
Peachy Pop!. Pada hari pertama, kami bermain
bersama My Writes dan Purplepaige, dua band lokal
Singapura. Kami menutup pertunjukan. Satu hal unik,
publik Singapura terbiasa dengan jeda antar band
yang panjang. Di festival ini, jeda antara satu band
dengan band lainnya adalah tiga puluh menit. Cukup
panjang. Dari segi teknis, itu memudahkan kru
panggung kami melakukan setting alat di atas
panggung. Menjadi tidak harus berpacu dengan
waktu jadinya.
Pada awal set, rasa gugup benar-benar
menghinggapi. Untung tidak ada kendala secara
teknis tata suara. Perwujudan rasa gugup yang
paling vulgar adalah ketika vokalis Bobby Alvianto
cukup terbata ketika memulai komunikasi dengan
penonton.
Malam itu kami ditonton sekitar dua ratus orang. Sebagian datang karena
mereka memang ingin menonton festival ini dan sebagian lagi mampir
menonton karena mereka memang kebetulan ada di daerah itu.
Yang cukup mengejutkan, di bagian depan panggung, ada sejumlah orang
yang ikut bernyanyi ketika lagu-lagu kami yang sudah dirilis model French
Riviera, Jennifer Loves Hewitt, Love Parade, dan bahkan lagu preview dari
full album penuh pertama band yang sedang digarap yang dipasang di
halaman MySpace kami, Old Friend.
Reaksi penonton seperti itu membuat kami bersemangat untuk terus
melanjutkan pertunjukan. Ketika ada break pendek untuk beberapa orang
–pada saat kami memainkan lagu-lagu akustik model Make It, Simple—,
pemain kibor Arafino Zaini menghampir saya di belakang panggung. Dia
berkata seperti ini, “Gila, Lix, gue nggak pernah segugup ini. Udah gitu, ada
yang nyanyi lagi. Ini sih macem kita di Jakarta aja, bukan di Singapura.”
Kelar Jennifer Loves Hewitt, trik band-band besar itu dijalankan. Satu demi
satu personil turun panggung. Saya sendiri berharap cemas di belakang
panggung. Takut trik yang sedang dijalankan oleh band saya gagal.
Tapi saya salah. Pelan-pelan, teriakan “We want more” mulai terdengar. Ini
saat yang tepat, pikir saya. Langsung saja satu demi satu personil kembali
naik panggung dengan iringan tepukan meriah penonton.
Pada sesi encore, Ballads of the Cliché malam itu memainkan Heidy (salah
satu wajah paling baru dari musik Ballads of the Cliché yang terpengaruh
oleh kuantitas personil yang bertambah) dan versi kover legendaris milik
Burt Bacharach, Raindrops Keep Falling On My Head.
Kami menutup malam pertama dengan begitu bahagia. Banyak cd dan kaos
yang terjual malam itu. Banyak orang yang menghampiri kami selepas
bermain dan berkata bahwa mereka akan datang lagi keesokkan harinya.
Benar-benar menyenangkan.
Kami kembali dengan senyum yang tidak pernah bisa dihentikan. Fasilitas
MRT terakhir membawa kami ke bilangan Orchard Road malam itu. Bisa
tidur nyenyak dan menanti puncak festival datang keesokan harinya.
Sabtu (10/ 2) merupakan puncak festival. Kami akan bermain bersama
Elektone, band baru Fruit Records, organiser acara ini, dan legenda
Singapura, The Oddfellows. The Oddfellows tidak pernah bermain dalam
kurun waktu beberapa tahun terakhir.
“Saya perlu beberapa kali meyakinkan mereka untuk main lagi, Felix. Kalau
nggak ada The Oddfellows, nggak akan ada scene indie di Singapura,” papar
Isman Tanuri dari Fruit Records menceritakan bagaimana usahanya
membuat The Oddfellows mau kembali bermain.
Hari itu, kami mendapatkan sesi check sound yang lebih pendek. Mungkin
karena operator panggung yang bersama kami sehari sebelumnya sudah
paham akan setting musik Ballads of the Cliché. Mencuri waktu untuk
berjalan-jalan bisa dilakukan dengan durasi yang lebih lama. Tidak heran
jika kemudian, ruang ganti kami dipenuhi oleh sejumlah belanjaan yang
berhasil kami kumpulkan selama beberapa jam menunggu waktu
bermain.
Kami bermain setelah The Oddfellows. Kembali berperan menutup
acara. Malam itu, kami akan memainkan set yang cukup berbeda
dengan hari pertama. Ada sepuluh lagu dalam set reguler ditambah
dua lagu pada sesi encore. Yeah, percobaan itu dilakukan lagi.
Pertunjukan hari itu cukup spesial. Kami memainkan dua lagu yang
belum pernah dimainkan sebelumnya di Indonesia. Baru dikemas
dengan apik di studio latihan. Lagu berjudul tentatif Coffeeshop
yang ditulis oleh gitaris Kurniawan Bambang dan sebuah lagu yang
sangat kental nuansa The Magic Numbers, berjudul Feel Free To
Feel Lost yang ditulis oleh pemain bas, Dimas Ario. Lagu yang
terakhir itu diwarnai dengan suara empat orang vokalis yang ada di
Ballads of the Cliché.
Pertunjukan hari kedua lebih menyenangkan. Ada sekitar tiga ratus
penonton yang memadati ruang oval itu. Lebih banyak dari hari
pertama. Dan penonton yang datang memang lebih hangat. Mereka
begitu apresiatif. Tingkah bodoh juga dilakukan oleh vokalis Bobby
Alvianto yang tersandung monitor panggung ketika sedang berjalan
dan berbicara di atas panggung.
Momen yang paling berharga adalah ketika kami memainkan French
Riviera dan Make It, Simple berurutan. Vokalis Ninatika Trimurti
mendapatkan perhatian khusus di dua lagu ini. Kebetulan ia juga
mengambil jatah vokal utama di dua lagu ini.
Taktik encore kami juga berhasil. Lagu terakhir sebelum encore adalah
Jennifer Loves Hewitt, trik yang sama. Hanya kali ini beberapa penonton
yang juga datang ke pertunjukan hari sebelumnya, sudah mengetahui
trik ini. Begitu lampu dimatikan, beberapa dari mereka langsung
berteriak. Pertunjukan memang belum selesai.
Lagu pertama dalam encore adalah satu nomor akustik berjudul Chance
of a Lifetime yang menampilkan Dimas Ario sebagai pemain musik
tunggal. Selepas itu, penampilan kami di Singapura ditutup oleh lagu Feel
Free To Feel Lost.
Applaus panjang penonton benar-benar membuat kami begitu bangga.
Mereka tidak banyak mengetahui musik Ballads of the Cliché, akan tetapi
memberikan apresiasi yang begitu bagus karena menikmati kami
bermain di atas panggung. Kami menutupnya dengan memberikan
penghormatan khusus untuk mereka yang bersedia datang ke dua buah
pertunjukan kami.
Malam itu, tiga album kami laris manis dibeli penonton. Cerita harus
diselesaikan. Kendati kami selalu punya hasrat untuk mengulanginya.
Malam itu masih ada undangan untuk after party sangat kecil di kawasan
Mustapha Center. Jadi, perjalanan masih harus dilanjutkan. Lagipula
keesokan harinya memang hari bebas. Rombongan besar kami baru
bertolak kembali ke Jakarta pada hari senin. Beberapa memutuskan
untuk pulang terlebih dahulu pada hari minggu karena harus bekerja
pada hari seninnya.
Hari minggu adalah hari yang dinanti. Karena itu hari penuh terakhir
kami di Singapura, sedari pagi hari, kami sudah terbagi dalam
rombongan kecil. Masing-masing dengan tujuan sendiri. Tujuan saya di
malam hari adalah datang lagi ke Esplanade.
Festival itu sendiri masih berlangsung untuk hari terakhir. Serenaide
dijadwalkan untuk bermain di hari terakhir. Saya datang sebagai
penonton.
Hari senin (12/ 2) kami semua bertolak kembali ke Jakarta melalui Batam.
Selesai sudah perjalanan panjang yang diatur dari September 2006 ini.
Kami menyimpan banyak memori atas perjalanan ini. Sekaligus
membentangkan harapan untuk bisa terus menerus kembali ke
Singapura dan memainkan musik kami. Harapan yang sama selalu berani
kami gantung sebagai sebuah band, sama seperti mereka yang
meninggalkan pesan atau impresi yang mereka rekam via halaman My
Space atau email setelah melihat kami bermain langsung. Selalu
menunggu kesempatan untuk bisa mengulanginya lagi. Ballads of the
Cliché loves Singapore!
***
LASTFM.COM a new world of endless quest in the modern music
Zaman sekarang gini banyak banget musik yang bagus, tapi untuk memilih sekian
banyak musik yang ada mau ga mau sekarang ini kita butuh rekomendasi terpercaya buat dengerin musik. Banyak orang males untuk ngikutin perkembangan musik
setelah dia kerja atau sibuk, tapi sekarang kayaknya hal ini bukan masalah lagi karena di web
last fm ini kita bisa selalu mengupdate pengetahuan kita akan musik. Kalo gini berarti slogan
yang menyebutkan, “being a hipster is a full time job” itu udah ga bener lagi karna untuk
mengupdate pengetahuan musik kini udah ga terlalu susah lagi, karna sekarang udah ada
last fm.com yang bakal ngebantu kita untuk selalu update dan menemukan terus musik-musik
keren tanpa harus ngabisin waktu.
Keunggulan lastfm dibanding dengan website musik lain semacam myspace adalah adanya
keterlibatan dan partisipasi dari usernya untuk terlibat langsung dalam proses
pengkategorian jenis musik dan saling rekomendasi musik. Hingga terkesan lebih sosialis dan
terbuka karena adanya kekuatan partisipasi dari dan untuk user-usernya, gila yah kayak
demokrasi aja tuh slogan nya. Gara-gara ada lastfm ini sekarang semua orang bisa jadi DJ
karena mixtape dan playlistnya bisa di jadikan referensi bagi user-user lain tanpa harus
menjadi DJ beneran dengan plat-plat koncian yang harganya mahilssss. If finding a good
music is all that matters to you then this web is definetely yer new savior.. Web ini memang
kayaknya diperuntukan buat music freak di seluruh dunia seperti halnya John Cusack di film
High Fidelity.Bagi kamu orang-orang yang gila musik dan demen banget ngoleksi CD atau
MP3 maka web ini pasti jadi surga baru buat kamu.
Contohnya kalo kamu suka Death Cab For Cutie trus kamu pengen tau siapa aja influenceinfluence
nya Death Cab dan penasaran pengen cari lagi band-band yang serupa ama Death
Cab bakal gampang banget. Cukup browsing di features kotak similar artist yang ada di last
fm, kamu bakal tau semua tanpa harus baca-baca review musik atau tanya-tanya lagi ke
temen kamu yang biasanya suka songong dan pelit bagi-bagi reference musiknya dia. Dan
enaknya lagi reference musik kamu pasti bakal bergerak dan berkembang terus ke arah
genre musik yang kamu suka.Jadi misalnya kamu suka banget ama genre indie rock tapi
kamu cuman tau Death Cab For Cutie doang, nah dengan browse similar artist di lastfm di
jamin kamu bakal bisa tau semua variasi musik dari band band yang segenre ama Death Dab
dan secara instan kamu akan menjadi lebih keren dari temen-temen kamu yang laen karena
tahu semua musik indie rock yang essential nya.Trus keakuratan referensi yang di kasih di
lastfm ini objektif. Karena berasal dari suara terbanyak mayoritas user-user di last fm dan
yang ngeratingin dan bikin sistem ratingnya dari user-user music di seluruh dunia. Pokoknya
music for the people banget. Setiap user bisa ngeratingin sendiri musik-musik yang dia
dengarkan dan memberikan klasifikasi genre sendiri. Terus nanti suara mayoritas dari sistem
rating dan pengklasifikasian musik itu yang dijadikan acuan buat user-user nya. Edan yah ini
web sosialis dan demokratis banget!!!
Ga cuman itu aja, web ini menyimpan segudang feature-feature yang emang di peruntukan
buat ajang tempat berinteraksi dan sharing-sharing seputar pengetahuan musik dengan
sesama music freak di seluruh dunia. Jadi kalo kamu salah satu orang yang sering ngerasa
kalo kamu cuman sendirian dalam hal selera musik kamu karena terlalu keblinger atau ga
nyambung ngobrolin musik ama temen-temen kamu, maka jangan takut my friend, web ini
akan secara otomatis mencarikan orang orang yang emang selera musiknya identik banget
dengan selera musik kamu. Coba kamu bayangin kalo ada cewe atau cowo yang emang sama
banget dengerin musiknya ama kamu. Kalo kamu orang
yang berpikir bahwa music is all that matters to u, maka
bukan ga mungkin kalo kamu nemuin soulmate kamu
yang selera musik nya emang identik banget ama kamu.
Selain itu bedanya lastfm.com ama friendster atau
myspace yang cenderung cuman sekedar pengen gayagayaan
doang dengan nyantumin band-band yang sok
aneh di kolom fav musicnya padahal dia ga pernah
dengerin band-band itu cuma untuk keren-kerenan
doang… nahh kalo di lastfm.com kamu ga mungkin
bohong lagi karena playlist kamu dapat di baca ama
user lain dan yang dicantumkan itu bener-bener apa
yang lagi kamu dengerin dari itunes kamu. Jadi nanti
ketahuan apa aja lagu-lagu yang kamu dengerin per
hari, per minggu, dan per bulan dengan syarat
komputer kamu musti online. Terus biar statistik musik
apa aja yang kamu dengerin di itunes atau winamp bisa
masuk ke web lastfm.com dan bisa diliat oleh user last
fm yang laen yang mengunjungi page kamu. Nahh…
kalo udah gitu hati-hati aja kalo mood guilty pleasure
kamu lagi muncul. Mendingan koneksi internet nya di
matiin dulu dari pada nanti masuk statistik di web dan
di liat orang-orang kalo kamu suka dengerin Boy George
kan bisa berabe dan nantinya ntar di sangka
menyimpang bos hehehe…
Music people around the world unite and take over
Nahh sudah cukup dengan penjelasan di atas, sekarang
kamu tinggal join aja ke last fm dan cari orang-orang
yang selera musik nya satu frekuensi ama kamu. Syukursyukur
bisa dapet cewek yang identik ama kamu hehe…
Dengan menggunakan features yang disediakan di web
yaitu musical compitability antara sesama user di last
fm. Nanti bisa ketahuan rate musical compatibility
(cocok selera) kamu ama user yang kamu tuju apakah
selera musik kamu cccok apa enggak ntar di rating
berdasarkan playlist kamu trus dengan nilai rating
antara high, medium, atau low compatibilitas musiknya
ama orang yang kamu tuju. Saya sih percaya kalo
dengerin musiknya udah satu frekuensi, pasti soulnya
juga udah pasti nyambung.
Sepertinya kita semua harus berterimakasih ama yang
buat website ini. Karena orang ini lebih merupakan
music socialist ketimbang music elitist yang percaya
bahwa music itu universal untuk setiap manusia dan
sekaligus berbeda-beda selera tiap orang. Last FM
emang jadi cara yang lebih sehat menemukan musik
yang kita suka dan saya percaya bahwa musik emang ga
boleh dipaksakan satu arah tanpa ada peran partisipasi
aktif dari pasar musik ya. Kayak kalo kita nonton TV, di
mana mereka nyekokin kita musik yang itu-itu aja
dengan metode propaganda brain wash music kayak
iklan obat murahan di TV yang di ulang tiga kali
berturut-turut supaya kita terdoktrin.
Harapan saya sih mudah-mudahan dengan adanya web
kayak gini, generasi youth of today atau generasi
penerus dari budaya kekerenan scene independent kita
ini bakal bisa tau lebih banyak referensi musik yang
memang mereka suka dengan gratis!!! Mudah-mudahan
bakal lebih banyak orang-orang yang demen musik
keren dan selera musiknya gak cupu karena seleranya
sudah sesuai dengan selera music hipster global
maupun genre music apa aja. Pokoknya bebaskeun!!!
Terus mudah-mudahan juga mereka akan termotivasi
untuk membuat musik yang memang bisa
dipertanggungjawabkan derajat kekerenannya jadi
makin banyak aja band band indie keren di indonesia
hehehe… kan asik tuh kalo banyak band yang kerenkeren.
Meminjam tag line dari majalah filter saya quote,
“GOOD MUSIC WILL PREVAIL!!!” AMIN…
Phil Collins : The Smiths Karaoke
Mengaku bukan fans terbesarnya The Smiths, Phil
Collins menggemparkan Bandung dan Jakarta dengan
video karaoke The Smiths.
Waktu itu, sekitar pukul 1 malam. Phil Collins tidak begitu terlihat lelah, tapi ia
sangat lapar. Katanya, ia belum makan dari siang. Maklum ia perlu mempersiapkan
proyek video art karaoke The Smiths-nya dengan baik, agar sesuatunya berjalan
lancar. Untuk itu mungkin ia lebih berkonsentrasi pada idenya dibandingkan dengan
urusan subsidi perutnya. Karena itu pula, interview yang seharusnya dilakukan di
sela break adzan maghrib mesti dilakukan hingga event karaoke The Smiths hari
pertama ini selesai pada tengah malam. Phil beralasan bahwa ia ingin menyelesaikan
pekerjaannya ini, apalagi dengan kejaran waktu yang molor, membuat ia melupakan
apa yang disebut dengan istirahat.
Di sebuah kafe yang terletak di jalan Dago ini, Phil terlihat makan dengan lahap. Ia
kemudian mentraktir saya dengan minuman bir lokal yang sangat terkenal. Dan
melihat Phil makan, ia seperti membalas dendam atas waktu istirahatnya yang
tercuri akibat intensitas pekerjaan. Berbicara tentang The Smiths Karaoke, ini adalah
sebuah proyek Phil Collins (namanya memang terdengar sama seperti seorang
penyanyi, namun ia tidak mempedulikannya ketika saya tanya) seorang video artist
dari Inggris yang akan membuat film baru di bulan Maret 2007 dengan para
penggemar The Smiths di Jakarta dan Bandung. Di Bandung sendiri event ini
diselenggarakan di hari Kamis dan Jum’at tanggal 8 dan 9 Maret 2007. Beberapa hari
sebelum event ini diselenggarakan, memang terlihat antusias dalam event ini entah
itu sekedar untuk eksis-eksisan, narsis, gila-gilaan, atau malah memang datang atas
dasar cinta pada The Smiths. Karena saya memperhatikan justru banyak yang datang
dengan atribut sebagai “The Smiths Dadakan”. Ngapalin dulu lagunya, pergi ke
warnet mencari lirik yang diinginkan, terus intens untuk ngapalin nada lagunya.
Maklum di event ini diundang siapapun juga yang mau berkontribusi, mulai dari
Rock Star hingga yang buta nada sekalipun.
“Karakter orang seperti apa sih yang kamu inginkan dalam video art karaoke The
Smiths ini? Apakah orang pemalu, orang aneh, orang berlagak bodoh, seorang
rockstar atau apapun?
“Karaoke ini sangat demokratis. Dan semua orang bisa mengikutinya. Semua orang
bisa direkam karyanya. Tapi fans The Smiths adalah seseorang yang berintelijensi,
lucu, ataupun memiliki karakter yang aneh,” Jawab Phil dengan lantang dan
demokratis.
Phil saat ini berusia 36 tahun dan telah intens untuk menjadi seorang video artist
selama 6 tahun. Sebelumnya ia adalah pekerja di instansi televisi, sambil sesekali
mengisap ganja, sebelum akhirnya hidupnya mentotalkan diri dalam berkesenian
bidang audio-visual. “Saya pikir semua orang di dunia adalah video artist. Kamu juga
seorang video artist?” tanya Phil. Lalu saya pikir bukan, saya bukan seorang video
artist. “Are you sure? C’mon…” tegas Phil seolah ragu. Maksud saya, bolehlah
sesekali saya membuat video dengan kamera pocket kecil saya, tapi itu baru sebatas
hobi dan bukan totalitas berkesenian video art. Phil kemudian tampak berseri dan
berkata, “Jika kamu pikir menjadi seorang video artist adalah suatu hobi, maka saya
menjalaninya hampir setiap hari,” jawabnya simple sambil menyeka sisa makanan
yang habis dilahapnya dan meminum bir mengaliri dahaga yang terpuaskan.
“Oke, kenapa mesti The Smiths yang dipilih bukan The Cure, Oasis, Blur, Joy
Division, New Order, atau apapun dari sekian banyak band di dunia? Are you the
biggest fans of The Smiths?” tanya saya.
“No, I’m not. I never said that I’m the biggest fans of The Smiths. I’m just really-really
like The Smiths. Masih banyak orang-orang yang lebih layak meraih predikat sebagai
fans terbesar The Smiths di seluruh dunia. Bagaimanapun dalam kultur musik pop,
The Smiths adalah band legendaris. Dan banyak orang yang sangat menyukai dan
mencintai Morissey. Bahkan banyak band dan musisi yang terinspirasi dari The
Smiths dan Morissey,” jawabnya. Dalam proyek ini Phil bertujuan bagaimana musik
menjadi penghubung antara satu orang dengan orang lainnya. Singkatnya, musik
sebagai bahasa universal di seluruh dunia. Proyek ini seperti kaitan musik rock
dengan kegilaanya. Contohnya, sebelum di Indonesia, event serupa diselenggarakan
di Bogota (Kolombia) dan Istambul (Turki), dan bagaimana berbagai perbedaan
kultur, bahasa, agama, ras, dan jarak melebur menjadi satu dalam rangkaian nada
dan lirik The Smiths. Yup, The Smiths mempersatukan segalanya dalam metafora
bahasa tersendiri.
Phil malah beralasan meski di ketiga negara tersebut terdapat berbagai macam
konflik internal seperti di Kolombia yang terkenal dengan heroin, militer, dan
penculikan, namun terdapat beberapa klub rock n roll yang sangat asik-asik.
Begitupula di Turki dengan kultur muslim yang kuat, kekerasan, hingga kemacetan
lalu lintas, namun banyak orang antusias. Sedangkan di Indonesia meskipun banyak
bencana seperti pemboman, gempa bumi, hingga tsunami tidak menciutkan
nyalinya. Ia malah melihat kultur musik yang sangat menarik di Indonesia. Terutama
di Bandung, Phil punya kredit tersendiri. Ia menganalogikan bahwa scene musik di
Bandung sama halnya dengan scene musik di Manchester di mana seseorang yang
kamu temui mungkin dia itu anak band juga.
Dalam video art karaoke The Smiths ini, Indonesia adalah negara
ketiga sekaligus terakhir, setelah dua negara sebelumnya Kolombia
dan Turki. Phil beralasan bahwa tiga adalah huruf sakti. Untuk itu
hanya tiga negara saja sebelum karyanya ini akan dipamerkan di
Carnegie Museum Of Art, Pittsburgh pada bulan April 2007. Materi
lagu The Smiths yang akan dinyanyikan oleh orang-orang diambil
dari album kompilasi The World Won’t Listen pada tahun 1986
seperti “Panic”, “Ask”, “London”, Bigmouth Strikes Again”,
“Shakespeare’s Sister”, “There’s A Light That Never Goes Out”,
“Shoplifter Of The World Unite”, “The Boy With A Thorn In His Side”, “
Money Changes Everything”, “Asleep”, “Unloveable”, “ Half A Person”,
“ Stretch Out and Wait”, “The Joke Isn’t Funny Anymore”, “Oscillate
Wildly”, “You Just Haven’t Earned It Yet Baby”, “Rubber Ring”, dan “
Golden Lights”.
Phil mulai mempersiapkan event karaoke The Smiths ini sekitar
bulan Desember. Ia datang ke Bandung dan melihat antusiasmenya
terhadap musik The Smiths. Pada awal pemikirannya, ia seperti
merasa gambling dengan hal tersebut tentang seberapa besar sih
antusiasme scene musik di Bandung dan Jakarta terhadap The
Smiths. Untunglah segala sesuatunya berjalan lancar sekarang. Hal
yang menginspirasi Phil untuk membuat event ini adalah ketika ia
jalan-jalan atau pergi ke luar daerah atau ke luar negeri, ia seperti
melihat ada kekuatan besar dan energi luar biasa terpancar dari
berbagai komunitas musik di seluruh dunia yang dilihatnya. Hal itu
membuatnya berpikir bahwa kekuatan sebuah musik memang
esensial dan musik sebagai metafor yang universal.
Malam semakin larut, dan pembicaraan pun semakin asyik. Phil
terus berceloteh tentang berbagai hal. Ketika saya tanya apa film
favoritnya, ia malah menjawab tidak punya dan malah berbalik
nanya apa film favorit saya. Dan ketika saya jawab film favorit saya
adalah Almost Famous karena telah mengubah hidup saya, ia malah
memuji bahwa film itu memang keren. Selain itu Phil berceloteh
tentang koleksi lagu The Smithsnya yang tak pernah dihitung.
Hingga album The Smiths “Queen Is Dead” yang dianggapnya
sebagai album terbaik dari The Smiths.
“Phil, lagu The Smiths apa yang bakal membuat kamu menangis dan
bersedih?” tanya saya.
Phil tampak berpikir sebentar. Mata besarnya menerawang dan
tangannya menahan dagunya yang besar. “hmmm… good question.
Saya pikir semuanya bakal membuat saya sedih. Terutama ketika
mendengar melodi dan vokal Morissey. Saya pikir dia itu sangat
brilyan!” jawabnya setelah sekitar menghabiskan waktu 1 menit
untuk berpikir.
Tak terasa waktu terus bejalan dan kian larut. Jam pun sudah
menujukkan pukul 3 dini hari. Sementara suasana café sudah mulai
sedikit lengang. Begitupula Phil, rasanya tubuhnya sudah mulai
menolak untuk beraktivitas. Dengan reaksi cepat, ia mematikan tape
recorder saya dan ingin segera menyudahi interview ini padahal saya
belum menyuruh atau memberi kode untuk “well, thank you Phil, the
interview is enough”. Ia justru menyudahinya dan menekan tombol
stop di recorder sambil berkata “goodnight”. Saya pikir ternyata Phil
ini memang orang yang lucu, seperti ketika dia menyapa orangorang
yang nonton Karaoke The Smiths di AACC ke balkon penonton
sambil melambaikan tangan dan berkata “hello everyone” sebelum
akhirnya penonton menjawab “hi…”. Interview pun selesai setelah
Phil mengucapkan “Goodnight” pertanda bahwa dia memang ingin
segera istirahat karena esoknya Karaoke The Smiths ini masih
berlansung satu hari lagi.
Pergulatan waktu telah berhenti seiring dengan malam kian larut
dan hanya terlihat penjaga café sedang membereskan kafenya
tersebut.
BLOC PARTY An Interview With Kele Okereke : East London Cocaine
Kele Okereke, Russel Lissack, Gordon Moakes, dan Matt Tong melakukan
tur selama lebih dari dua tahun. Waktu yang cukup panjang dan lama
membuat mereka kelelahan hingga tidak lagi bisa merasakan kenikmatan saat
berdiri diatas panggung dengan ratusan ribu penonton yang mengelu-elukan
mereka. Album ‘Silent Alarm’ terjual satu juta kopi di seluruh dunia, dan
NME menobatkan album mereka sebagai “Album of the Year 2005”.
Meskipun begitu, mereka sudah benar-benar terlalu lelah untuk bersorak dan
bergembira…
Bloc Party memasuki masa vakum dengan frustasi. Tanpa lagu-lagu
baru mereka enggan untuk menjejakkan kaki mereka ke atas
panggung. Menghabiskan berhari-hari di studio untuk membuat lagu
baru malah membuat mereka semakin terpuruk. Beat dan sound yang
dibuat terasa membosankan, mereka bahkan merasa iri kepada Justin
Timberlake yang bisa menghasilkan beat-beat dan nuansa musik yang
berbeda dalam albumnya barunya.
Okereke memilih untuk pulang ke rumahnya di East London dan
berpesta sepanjang hari. Bangun siang, hangover, dan kembali
mabuk-mabukan, Okereke berharap hidupnya dapat berubah. Awal
tahun 2006, Bloc Party kembali disibukan dengan proses pembuatan
album kedua. Okereke mulai merangkak dari keterpurukannya dan
merangkum semua kesenangan, kesedihan, kebebasan, kesuksesan,
kokain, kekerasan, isu rasial, dan hedonisme. Mengumpulkan semua
energi positif dan negatif menjadi lagu-lagu baru. Hasil dari
perjuangan itu adalah sebuah album yang benar-benar ‘baru’ dan
menggemparkan. Lirik-lirik khas Okereke yang tajam dan jujur
menjadi kombinasi yang padu dengan guitar rock khas Bloc Party.
Hasilnya, album “A Weekend in the City” yang dirilis pada bulan
Februari di Inggris dan Amerika terlual lebih dari 48.000 kopi di
minggu pertama, dan langsung menempatkan mereka di posisi #12
chart Billboard 200.
“A Weekend In The City memberikan impresi yang sangat berbeda
dari Silent Alarm,” ujar Okereke. “Ini bukan album yang terkonsep.
Rasanya kata ‘konsep’ sudah terlalu sering dipakai akhir-akhir ini.
Saya pikir album ini lebih tematik dan lebih terfokus daripada album
sebelumnya. Yeah, kau tahu, saya benar-benar bekerja keras pada
album ini… banyak mengkonsumsi anti-depresan dan intens
mendiskusikan tentang bunuh diri (tertawa).” Beberapa kritikus lebih
mencermati departemen lirik pada album A Weekend In The City,
mereka berangggapan kandungan liriknya seperti perayaan terhadap
liberasi hedonisme. “Ya, menurut saya itu tidak bisa dihindari
mengingat saat menulis lirik, kamu akan mengeluarkan apapun yang
ada di dalam pikiranmu. Di East London kamu tidak akan bisa pergi
kemana-mana tanpa seorangpun menawarkan kokain. Tapi bukan
berarti saya kemudian memoralkan penggunaan kokain. Rasanya
lebih kepada akibat dari penggunaannya,” tegas Okereke.
Sebagai keturunan orang berkulit hitam, Okereke hampir tidak pernah
merasa nyaman tinggal di Inggris. “Rasanya dengan isu-isu yang
diangkat media tentang 9/11 (WTC) dan 7/7 (Subway Bomb),
diskriminasi tertuju pada kami,” tuturnya. “Masyarakat beranggapan
suatu saat orang-orang kulit hitam adalah teroris yang akan
menembaki orang-orang di tengah jalan sambil tertawa-tawa. Itu
adalah anggapan yang salah. Sebetulnya, kamilah korban dalam
situasi ini,” lanjutnya lagi.
“A Weekend In The City” tampaknya bukan lagi album yang akan
menghentak di lantai dansa pada akhir minggu. Akan ada
pemahaman ulang tentang apa itu berpesta dan bersenang-senang.
“Melalui album ini, saya tidak lagi rasional terhadap permintaan pasar.
Saya ingin melemparkan orang-orang ke lantai dansa, ya, melempar
dalam arti harfiah, sehingga mereka bisa berpikir lebih jernih
terhadap segala sesuatu, apapun itu,” ucap Ikereke. “Orang-orang
mengenal Bloc Party sebagai band yang serius dan politis, tapi saya
ingin lebih dari itu,” tutupnya.
OLIVE TREE: HAVE YOU TASTED OLIVE TREE YET?
Ya, Mereka memang mengambil
nama nya dari lagu penyanyi
melankolis Basia, tapi Olive Tree itu
ternyata lebih nge-rock. Ya, nge-rock.
Ha. Let’s Meet Tezar (gitar), Iman
(bass), Bez (drum) dan Kikichan
(vokal & keyboard) dari Olive Tree
untuk sebuah obrolan singkat
tentang drugs, festival indie dan
fengshui nama band..
Halo.. euh.. kenapa ya Indie tuh sekarang kaya
nya overrated banget nih.. Setuju ama kata-kata
”indie is the new mainstream”?
Tezar: maybe..
Iman: Setuju aja, mungkin para pendengar musik
disini udah bosen sama musik-musik mainstream
yang mereka kenal selama ini, dari kejenuhan itu
mereka mencoba mencari musik-musik yang lebih
fresh, kebetulan musik dijalur indie lebih beragam
dan lebih berkualitas.
Kikichan: mmh..sepertinya setuju, indie sekarang
sangat populer, sesuatu yang popular dekat sekali
dengan mainstream.
Bez: Setuju dong, masa indie tuh mau gitu-gitu
aja… bagus kan kalo “indie” udah me-nasional, tar
mayoritas bangsa kita jadi sedikit lebih keren lah,
nanti juga ada kultur baru yang lebih keren dari
“indie” dan seterusnya dan seterusnya…tapiiii…
coba dikemas dan diolah dengan cara yang baik
dan benar. Coba lah ngenteung dan baca-baca
kamus lagi “indie” teh artina naon!
Oh iya, trus gimana nih strategi manajmen
dalam “kamus” kalian agar tetap bertahan?
Sekarang kan banyak band-band baru yang ga
bertahan lama..
Tezar: wah kalo strategi jangan nanya sama saya
hahaha..
Iman : Manajemen yang baik penting banget
untuk sebuah band, gimana cara me-manage agar
kita tetep jujur pada musik yang akan kita buat,
dengan begitu image band akan terbentuk dengan
kuat dan kita akan bertahan.
Kikichan : strateginya mempertahankan mutu dan
kualitas..mmh..yang penting sih selama aku
nyaman menjalaninya pasti aku berusaha yang
terbaik buat band.
Bez: Hmm..apa yah…berkomitmen aja kali..trus
bertanggung jawab sama komitmen tersebut dan
kita harus punya obsesi dan visi. Soalnya itu
penting banget.
Ya itu penting.. trus lu ada tim yang khusus
mengatur manajemen kalian?
Tezar : ya, harus ada team manajemen yg
mengatur. Karena ga semuanya bisa dikerjakan
sendiri oleh si band tersebut. dengan adanya tim
tersebut maka band akan semakin sukses “tergantung
dari tim nya juga”.
Iman: Kalau tim khusus sih gak ada, tapi kita memiliki
tim yang cukup kompak.
Kikichan: obladioblada! Kita punya tim quality
control..hahaha…
Bez: Ada, dan itu kayanya kebentuknya ga sengaja..
yah sekumpulan orang yang ‘jatuh cinta’ sama band ini
aja kali ya.. yang bener-bener tulus bantuin kita.
Seharusnya gue nanya pertanyaan ini buat Sonic
Youth atau Flaming Lips, tapi gapapa deh.. drugs
terbaik buat bikin lagu?
Tezar: kaya nya ga…yang ada hanya terdiam atau
tertidur haha, ‘the drugs don’t work it will just get you
worst’
Iman: Sering nge-khayal
Kikichan: segelas embun pagi
Bez: semua musik kami dibuat dalam keadaan sadar
tanpa tekanan atau paksaan dari pihak manapun he he
he..
Embun pagi? Oh bagus..bagus.. mmhhh.. Sekarang
kan lagi banyak festival ama lomba-lomba bandband
an disini.. setuju kalau musik di pertandingkan
kan? Jadinya kan kaya lomba masak dan akan
sangat subjektif menurut gue..
Tezar: Setuju saja, dengan begitu kan bisa
berkompetisi. Tetapi kembali lagi kepada masingmasing
individu. Tujuan mereka bermusik itu apa?
Iman: Ya, ajang seperti itu bisa memotivasi daya
kreativitas untuk menciptakan suatu karya musik yang
berkualitas.
Kikichan: mmh..sepertinya setuju aja, fungsi dari
pertandingan itukan mencari yang terbaik..
Bez: Tergantung apa dulu motivasinya, serius ato
engga… kalo masih fun-fun aja mah saya ikutan lah
heu heu..
Musik. Terus Definisi musik bagi si Olive Tree itu
sendiri apa sih?
Tezar: musik itu nyawa hahaha..
Iman: Bercerita melalui bunyi-bunyian.
Kikichan: bentuk dari ungkapan hati yang ingin
disampaikan.
Bez: benda yang asik buat diutak-atik
Jadi lu lebih nyaman di kategorikan sebagai band
apa?
Iman: Band yang kalian kenal selama ini
Kikichan: Band yang menyenangkan
Bez: Band Rock aja kali yaa.. karena somehow we
rocks..hehehe
Ya, kalian memang nge-rock kok.. Oh ya ngomongngomong
udah berapa tahun Olive Tree terbentuk?
Iman: 3 taun lebih, kita terbentuk Oktober 2003.
Kikichan: hampir 4 taun.
Tezar :kalo saya mungkin antara 3 atau 4 tahun,
maklum masi muda, jadi pelupa.
OLIVE TREE:
“HAVE YOU TASTED OLIVE TREE YET?”
words.aldykentang
photo.
Tapi lu ga lupa kan Selama 4 tahun tersebut ada
perubahan dan perbedaan apa, dari progress
musikalitas ampe sound nya? Gimana sih Olive
Tree yang sekarang ama yang dulu?
Tezar: Olive Tree sangat berubah dengan
sejalannya waktu. Dari segi musikalitas Olive Tree
berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik
begitu pula dengan musiknya. Dulu sound saya
busuk tetapi sekarang sudah ada titik terang nya
lah. Hahaha, Sudah mulai ada banyak perubahan.
Iman: Musik yang kita buat mengalami proses
pencarian karakter, yang awalnya lebih nge-pop
sampai kita menemukan karakter Olive Tree yang
paling pas, yaitu pada lagu “Magic of an Olive
Tree” dan kita mengkukuhkan bahwa karakter
band/musik Olive Tree seperti itu.
Kikichan: Perbedaannya kita lebih mengenal
karakter kita sendiri, lebih banyak belajar dari
pengalaman, Olive Tree sekarang lebih
menyenangkan.
Trus Proses buat lagu si Olive Tree sendiri kaya
gimana?
Tezar: prosesnya simple sekali, siapapun yang
punya materi bisa memberi tau kan para personel,
diperdengarkan, dikomentarin, dipikirkan ramerame,
lalu dibawa latihan di studio dan
diaransemen bersama. Seperti itulah kira-kira.
Iman: Selama ini kiki yang bikin ilustrasi lagu, kita
selesai-in barengan.
Kikichan: Kebanyakan dari pengalaman pribadi (lirik),
kalau untuk melodinya prosesnya lebih lama,
tergantung mood.
Bez: iyaa. untuk album kemaren si kiki bikin sketsa, kita
beresin bareng-bareng bikin bagan baru, masukin lirik,
beres deh…buat album berikut sih gimana nanti
aja..hehehe..
Ada cerita menarik dari launching album kemaren?
Tezar: duh, yang ini bingung nih. Masi bingung mencari
bagian yang menariknya di sebelah mana??
Iman: Ya, pas launching album kemaren, cd-nya belum
jadi, yang mo beli jadi harus pada ngorder dulu.
Kikichan: yaa..sebetulnya launching kemaren
merupakan hari yang special walaupun banyak
kekurangan..masalah tempat,sound, persiapan pihak
EO dan berbagai hal yang mengecewakan dan sedih,
tapi aku pribadi sangat berterima-kasih buat semua
yang udah ngebantuin, yang udah datang dan
mensupport Olive Tree.
Bez: dibalik semua kekurangan teknis sebenernya kita
tampil total, aga kesel juga ada komentar-komentar
miring setelahnya… buat berikutnya sih orang-orang
yang banyak bacot itu bakal kita libatkan di tim
produksi, siapa tau acaranya jadi bagus… mereun eta
ge.
kalo lu dikasi kesempatan buat ganti nama band, mo
ganti jadi apa nih biar feng-shui nama band nya
bagus?
Iman: Pohon zaitun.
Kikichan: Tree Olive.
Tezar: The Biscuit Khong Ghuan’s (TBKG). Hahaha..
Contact:
Olive tree Management : Tanya ‘Tonyo’ :
08122021355
Email : tanyaaaish@yahoo.com
Myspace : http://www.myspace.com/olivetree
DAATH : Between instinct and intellect
Boleh saja Mike Kameron sesumbar tentang makna bandnya yang
ia anggap memiliki filosofis dalam dan ekstrim. Antara B naluri dan pemikiran, Daath hadir sebagai band extreme metal yang
menggabungkan unsur death metal, thrash metal, dan black metal
dengan sedikit technical virtuosity dan Atlanta groove. Saat ini mereka
akan merilis debut albumnya di bawah bendera Road Runner Records
yang akan diberi judul album “The Hinderers”. Rencananya, album yang
berisi 13 lagu itu akan menjadi pembuktian band asal Georgia ini pada
khalayak metal. Band ini berpersonilkan Sean Farber (vocals), Eyal Levi
(guitar), Mike Kameron (synth/keyboards/vocals), Emil Werstler (lead
guitar), Jeremy Creamer (bass), dan Kevin Talley (drums).
Daath bermulai ketika Eyal Levi, Mike Kameron, dan Sean Farber,
ngeband bareng sejak mereka masih di SMU. Ketiganya bertemu di
sekolah Berklee College Of Music, Boston. Kemudian, mereka semua
keluar dari sekolahnya dan berkonsentrasi untuk total
bermusik.Intensitas yang kemudian menjadikan Daath lebih dari sebuah
band proyek semata.
Dalam bahasa Yahudi, Daath berarti “Knowledge”/ “Ilmu Pengetahuan”.
Bukti nyatanya adalah filosofis bermusik mereka yang konseptual, tak
sekedar memainkan musik heavy metal saja. Ada esensi filsafat dari
suatu headbanging metal. “ Kita mengeksplorasi pohon kehidupan. Ini
adalah suatu konsep Kabalistic. Terdapat 13 poin dalam pohon
kehidupan, di mana masing-masing lagu ini merepresentasikan masingmasing
poin tersebut. Mike telah meneliti dan melihat masing-masing
poin dan kami menggambarkannya dalam sebuah tema sebelum
kemudian menulis lirik yang berdasarkan hal tersebut,” terang gitaris
Eyal Levi. Meski mengaku bukan sebuah band religius, namun konsep
band yang “dalam” dalam artian filosofis dan pemikiran, tema dari album
ini mencerminkan pemikiran mereka terhadap pandangan self-defeating
yang seolah membuat hidup mereka abnormal. Mereka menggunakan
pohon kehidupan itu sebagai kerangka eksplorasi psikologis dan
esplorasi hal abnormal yang dihubungkan pada pohon kehidupan.
Selain kedalaman konseptual, Eyal menjelaskan keunikan sound musik
mereka. Terutama lewat berbagai pengaruh musikal mereka. “Kita
memiliki berbagai pengaruh musikal. Saya mulai dengan bermain biola
ketika berumur 4 tahun, dan mendengarkan segala jenis musik mulai
dari Gustav Mahler, The Doors, hingga Aphex Twin. Saya pikir kita bukan
band death metal tradisionil. Kita mau bilang bahwa kita memainkan
musik extreme progresif. Kita memainkan segala jenis gaya musik
ekstrim mulai dari death metal, black metal, doom metal, dan whatever…
kita memasukkan unsur elektronik, unsur orkestra, hingga classic rock.
Kita sendiri enggan disebut sebagai band death metal saja. Tak ada
batasan untuk itu. Kita selalu berusaha untuk terus berkembang, dan
kita selalu berusaha untuk berekplorasi pada sound musik kita. Tujuan
kita memang menambahkan elemen baru tiap rekaman, dan mudahmudahan
apa yang kita lakukan orang juga bakal suka.”
The Hinderers sendiri diproduseri oleh James Murphy (Disincarnate ex-
Death, Testament, Obituary). Albumnya sendiri akan segera dirilis pada
27 Februari 2007. “”I’m working on what I can do to promote the record.
That’s basically it – that’s my life right now. We’ve been working on this
record, writing and recording it since 2004. It’s been a long time coming
and there’s a lot of energy and excitement built up. Our entire focus is on
DAATH. We don’t have much down time,” ujar Eyal.
“On a mental level, DAATH acts as a doorway
between instinct and intellect, and in our opinion
the struggle between those two aspects of mind is
what causes most of the ills in the world.” —
keyboardist and conceptualist Mike Kameron—
Goodnight Electric
Malam itu sekitar pukul
sebelas waktu ibu kota
jawa barat, saya Mmenemui Goodnight Electric di
suatu apartemen sewaan di
kawasan dingin Dago atas,
selesai mereka menyelesaikan
penampilan di kampus sang
legendaris “Amet” ITENAS.
Interview dilakukan di atas
sebuah kasur kecil, dimana kami
ditemani : beberapa kaleng bir,
rokok, telpon dari sang pacar,
dan dengkuran sang manager
merangkap sound engineer yang
sedang tidur kelelahan…
Apa yang kalian ketahui tentang Goodnight
Electric? Trio elektronik yang bernuansa
hedonisme dan dikelilingi cewek-cewek muda
berjoget-joget disekeliling mereka?
Bukan, mereka punya sesuatu yang jauh lebih
menarik untuk disampaikan…
Dan hanya kepada RIPPLE mereka bercerita jujur
dan menunjukan mereka apa adanya… tentang hal
baik dan… sedikit kurang baik.
G.E bercerita tentang konsep “ Lucky Bastard”
mereka percaya kalau kesuksesan ini harus punya
‘guide’ atau pedoman hidup, karena suatu profesi
menurut mereka harus punya satu kepercayaan
yang dipegang. Tentunya tentang kebaikan
menurut versi mereka…
1.ga tidur, di komputer 24 jam download bokep
tahun 80-an era john holmes karena toket belum di
operasi, bulu ketek masih panjang,
2.jauhi narkoba
3.tidak minum susu
4.disiplin berseragam, dalam kehidupan seharihari.
contohnya : kenapa di Band GIGI cuman
Dewabudjana aja yang berkumis.. itu kan
sebenernya bisa jadi kesenjangan juga buat
personil band yang lainnya
5.punya peliharaan hewan
G.E bercerita tentang kehidupan wanita, sex
anak muda dan pahala.
Jangan pernah main wanita nakal, karena nantinya,
kita yang akan diperdaya atau dimainin balik sama
mereka
Jangan pernah menganggap cewe itu gampangan
atau murahan .. banyak cowo yang berpikiran
kalau cewek itu cuman buat di ‘pake’ doang.. tapi
kalo kita ngga… kita mikirin, si cewek itu punya
uang atau ngga buat ongkos…. Kost-kost an nya
udah dibayar apa belum.. jadi ya lebih mikirin
kehidupan mereka aja.. jikalau kita dihadapkan
dengan cewek yang berlimpah ruah… maka kita
menghadapinya sebagai cobaan untuk dapet
pahala aja… (yiuuuk*Red)
GE bercerita tentang kejujuran.
Sampai sekarang ini kami masih bersyukur aja
dapet kondisi seperti ini, keberuntungan masih
berpihak kepada kami. Maka dari itu kami juga
ingin selalu seperti orang biasa aja… ga mau
menikmati kehidupan ala superstar atau artis-artis
gitu, dan berusaha jujur sama kemauan,kata hati
dan diri kita masing-masing.
Radja nggak jujur tuh… lagu nya sih mungkin
jujur.. tapi masa jujur musti ngomong-ngomong
sih..
Sampai saat ini, G.E berhasil menjadi satu band
cowok yang bisa menjadi kultur, gaya hidup,
dan sekaligus fashion maker dikalangan anak
muda sekarang ini. Hingga tidak sedikit yang
menjadi fans fanatik mereka. Apa yang mereka
rasakan?
G.E menyikapinya secara sederhana aja, mereka
tidak kami anggap sebagai fans atau pengagum
kami, tapi mereka menjadi teman baik kami
semua… temen buat nongkrong bareng.. “Good
Friends” (G.F) mereka menyebutnya.
Tanpa disuru, G.F membuat zine sendiri dengan
diberi judul “Techno zine” beberapa lembar
fotokopian kertas kecil yang dijual Cuma Seribu
perak, yang isinya tentang apa yang dipikrkan
pikiran G.E dan G.F
Sebetulnya susah untuk bisa menjadikan 3
karakter bergabung menjadi satu.. dengan
“menyeragamkan” pakaian, sesoris.. seolah-olah
kalian dipanggung terlihat seperti adik-kakak
(ketemu gede…)
Ternyata inti dari “Penyeragaman” yang ingin G.E
terapkan adalah kedisiplinan, dimana semua
personil harus sehati, satu visi, satu kesatuan…
dan G.E mengharapkan juga disiplin G.E juga bisa
diterapkan sama penggemarnya.
Ketika mereka memakai seragam, mereka seperti
mempunyai satu kebanggan,(seperti anak sekolah
bangga dengan seragam sekolahnya) yang pada
intinya dibalik seragam itu, G.E punya suatu:
tanggung jawab, konsep, idealis, entertainment
yang siap mereka sajikan kepada penonton.
Seragam adalah salah satu media yang baik untuk
sebuah konsep kerjasama tim.
Batman berbicara tentang indahnya wanita
umur 28-an, dan tanggung jawab moral
terhadap wanita belia.
Pada awalnya G.E berharap musiknya bisa diterima
dikalangan umur 28 keatas, seperti mbak-mbak
kantoran, pasangan suami istri muda, pokonya
orang-orang pada usia matang… seperti G.E juga
sangat mendambakan sekali manggung di suatu
acara perusahaan besar (apalagi perusahaannya
milik Tata Tommy Soeharto), yang di banjiri
sekertaris-sekertaris berseragam rok pendek dan
bahenol yang histeris meneriakan “guudnait
eleckccrik..!!!”
Tetapi dugaan mereka meleset, ternyata
pendengar justru datang dari kalangan usia belia…
dan G.E justru tidak lari dari tanggung jawab itu,
mereka terus akan mengayomi penggemarpenggemar
mudanya untuk tetap berada di jalan
yang baik (cieh..*Red)…
G.E tidak mau penggemarnya menjadi suatu
generasi yang justru merusak dirinya sendiri, dan
nantinya kecewa akan masa-masa yang mereka
lalui.
Oomleo berbicara tentang konsep JA-IM, kaca
mata Ian Kasela, dan Anak metropolis yang
terhindar dari cela-an.
Kadang dalam dunia entertaiment Ja-Im perlu untuk
mempertahankan suatu konsep atau bisa dihargai
oleh orang lain…
G.E sangat ja-im dalam hal-hal yang kurang terpuji
secara aksi dan visual, seperti: memberontak, bikin
ulah, atau statement yang provokatif… mereka
cenderung mempertahankan konsep “anak baik-baik”
nya mereka, yang pasti mereka mereka
mempraktekan Ja-Im in a ‘good way’ atau ‘For a
better life’… jadi bukan yang ’sok ganteng’ atau ’sok
aseek..’
Nah, beda nya dengan vokalis Radja.. jelas oomleo,
dia mempraktekan Ja-im untuk memikat sesuatu atau
sesuatu yang terlihat ‘cute’ coba aja bayangin kalau
dia dicukur cepak dan kaca matanya nggak seheboh
itu.. pasti dia ngga akan banyak dicela…
Mari kita kelaskan mereka.. (Ian dkk), karena ini
juga kesempatan baik untuk itu..
Banyak alasan kenapa Radja juga berlaku seperti itu,
karena mereka juga berusaha terlihat seperti
bagian/wakil dari musisi kota besar, yang siap
didagangkan di daerah-daerah.. ya betul! pasar
mereka di adalah di daerah.. maka kita sebetulnya
harus berbesar hati kalau mereka sebetulnya adalah
elemen dari dunia hiburan di daerah.. sehingga para
penganut/musisi “budaya pilihan metropolis”
(seperti G.E) sebetulnya punya porsi yang jauh lebih
menarik dibanding pelaku budaya mainstream, dan
G.E mampu berhasil memberikan kesan yang jauh
dari norak, dan “keren” pada jamannya… stuju?
Jika kita simpulkan G.E dalam konsep Ja-im dan
konsep cool …?
“Goodnight Electric adalah… 3 orang laki-laki yang
rendah hati dan tidak sombong, dan tahu bagaimana
memposisikan diri di kota (metropolis) supaya tidak
di cela seperti ian kasela…” ( and yes, we had a
good laugh, and it’s only a joke between indo
musicians, don’t worry ian… soon you’ll make a
giant number of copies, or giant sunglasses too
)
Hal menarik yang pernah G.E dapet dari cewek?
Pernah di suatu kota, ada seorang cewek ngasi
underwear, kondom… tapi kita kan ga tau maknanya
buat apa… ini buat sex atau koleksi..? akhirnya kita
pulang aja tidur di rumah …
Cewek yang ‘indah’ menurut G.E, cewek seperti
apa?
Cewek yang rok nya pendek, pake G-sting tru keliat
dikit ke atas … ngeroko, tampangnya kaya Maria
Renata… woOO..kita pengen banget tuh di tiap kita
manggung banyak cewek-cewek seperti itu …
Tapi kita cuman suka ngeliatnya aja, hanya untuk
dinikmati untuk dilihat …
Bukan untuk di salah gunakan..
Jika para penggemar G.E ingin mengucapkan
statement di kaos nya, kata-kata apa yang ingin
kalian baca di dada mereka?
“For you to remember” trus ada panah menuju ke
arah bawah …
Cewek pada era mana yang G.E paling suka?
Cewek-cewek tahun 70-an, seperti Twiggy, brigitte
Bardot, dan semua Playmates di center folds
majalah Playboy tahun ‘67-’74.
Oomleo hampir sudah 3 tahun tidak punya
pacar, bondi 1 tahun…sebetulnya cewek ideal
apa yang pengen kalian temui untuk
menemanimu?
Nah… itu dia, susah banget, memang kami
lumayan selektif juga… kami pengen cewek yang
kami temui bukan karena kami adalah personil
G.E.
Kami juga pengen cewek kita, tau banget apa
yang personil G.E mau… Seperti halnya kebutuhan
pokok dan hasrat laki-laki lah…
Bersedia nemenin begadang, baik hati dan tidak
sombong, kalo cantik sih pasti ya…
Karena Bagi Oomleo cewek tidak boleh menggagu
kehidupan, rutinitas dan visi hidupnya, jadi biarlah
3 tahun dilewati, “gwa pengen cewek gua perfect”,
kita lihat aja nanti tahun ke 5, (Buset!*Red.)
Tapi yang pasti, nyari cewek atau mendalami cewek
bukan prioritas utama personil G.E.
G.E terdiri dari pria-pria dewasa, mereka
berbicara tentang kebutuhan batiniah.
Daripada punya pacar tapi kurang sreg, mereka
lebih memilih berhubungan (tapi bukan komitmen)
yang diberi istilah ‘Fuck Body’, yang mengartikan
hubungan yang bisa mengerti kebutuhan sex tanpa
harus dibicarakan dan bisa memberinya tanpa
mengharapkan sesuatu sesudah nya, hubungan ini
hanya berdasarkan hasrat masing-masing saja..
Apa bedanya dengan sex bebas?
Jelas beda, kalau sex bebas itu kamu melakukan
dengan cewek-cewek perek, cewek-cewek di
diskotik, one night stand, pokoknya yang
sembarangan banget.
Cewek-cewek idola kalian?
Oomleo: Rafika Duri waktu masih muda, Vina
Panduwinata masih muda, Agnes Monica masih kecil
Bondi : Asmirandah, Ayu Sita, Laudya Chintya Bella
Betmen: yang pasti Maria Renata… dari kiri ke
nanan… bagus, Pas mabok tetep cantik, pas dicium
sama Nicholas Saputra… makin cakep… Nah “Lucky
Bastard” No. 1 tuh Nicholas Saputra tuh.. No. 2 Baru
G.E …
Ketakutan terbesar dari G.E?
1.Band bubar karena cewek…
2.Band bubar BUKAN karena cewek… contohnya;
selera musik, itungan gara-gara jarang bayar taksi,
nggak mau bayar kost-kostan…
Dari pembicaraan diatas, jarang ada band yang
secara sengaja membuat suatu pedoman atau
batasan untuk mereka sendiri. Membatasi perilaku,
membatasi hasrat atau tawaran yang justru malah
nantinya merusak citra dari band itu sendiri. Dan
mereka juga percaya kalau mereka melanggar atau
merusak kepercayaan itu, anugrah “lucky Bastard”
akan sendirinya hilang… dan mereka berjanji akan
berusaha mempertahankan itu.
Sungguh seperti angin segar mendengar dan
mengerti mereka untuk “memperlakukan wanita
bukan sekedar objek pemuas semata” mengingat
band ini adalah sebuah ‘magnet’ bagi cewek-cewek
eclectic ibu kota yang juga dominan masih belia.
Mereka menganggapnya hanya sebagai ‘elemen’
dari perjalanan karir mereka saja, yang harus di
hadapi dengan bijaksana.
Apa kita ingin G.E tetap bertahan pada kondisi ini?
Supaya terus berkarya dan mempertahankan image
‘cool’ mereka, sehingga kita bisa terus berbangga
dengan musisi atau musik yang kita percayai?
Jika iya… ingatkan terus mereka tentang konsepkonsep
atau filosofi yang mereka buat…
SANCTITY
Jika mesti menyebut nama yang berjasa besar akan
karir Sanctity, dia adalah Matt Heafy (Trivium) dan
Dave Mustaine (Megadeth). Seperti kisah Cinderella, garis
nasib Sanctity hanya berubah dalam waktu satu malam saja. Malam
ajaib itu bermula pada akhir tahun 2004, ketika Sanctity membuka
konser Trivium dan Fear Factory. Tak disangka Matt Heafy yang
menonton show Sanctity malam itu, melihat musikalitas luar biasa dari
band ini dan kemudian menyarankan agar Sanctity membuat EP dengan
Jason Suecof, produser Trivium. EP itu kemudian dikirimkannya pada
Monte Conner dari Road Runner Records, sesuai dengan rekomendasi
dari Matt Heafy. Kemudian Conner menyuruh Sanctity menulis beberapa
lagu untuk merekamnya dalam demo dengan kualitas standar. Hingga
kemudian, seiring waktu berlalu, Sanctity menjalin kontrak dengan
Road Runner Records untuk merilis debut albumnya, Road To
Bloodshed.
Namun malam Cinderella tidak berhenti. Malam ajaib lainnya bermula
ketika Sanctity menjadi band pembuka Dragonforce di Whiskey A Gogo.
Tak disangka, Dave Mustaine melihat penampilan mereka. So, setelah
show Dave menghampiri mereka dan menawarkan untuk mengikuti tur
Gigantour Festival. “Dia datang ke backstage dan bertanya pada kita
secara personal untuk melakukan show Gigantour Festival tersebut,”
kenang drummer Jeremy London. “Dan itu menjadi kehormatan luar
biasa buat kami, karena kami semua sangat mencintai Megadeth dan
Dave adalah salah satu idola kami sepanjang masa.
Lewat testimony dua musisi metal beda generasi itulah kini nama
Sanctity menjulang. Band yang berpersonilkan Jared MacEachern
(vocals/rhythm guitar), Zeff Childress (lead guitar), Derek Anderson
(bass), dan Jeremy London (drums) mulai mengikuti banyak tur bersama
band-band metal luar biasa lainnya seperti Fear Factory, Still Remains,
Mastodon, Trivium, Nile, Demon Hunter, Daylight Dies, Dead Poetic, Full
Blown Chaos, dan Still Naive. Band yang berasal dari Western North
Carolina ini disebut oleh para kritikus sebagai Appalachian Metal.
Dengan menggabungkan musikalitas ala American Metal seperti Megadeth
dan Killswitch Engage dan European Metal seperti In Flames dan At The
Gates, Sanctity telah menciptakan keunikan tersendiri.
Dengan referensi musikal seperti Metallica, Megadeth, Slayer, dan Pantera,
Sanctity telah menciptakan karakter tersendiri lewat gabungan referensi
musikal yang jenius. Pada debut albumnya, Road To Bloodshed, para kritikus
menilai musik mereka seperti gabungan thrash dan old-school metal power
dengan sedikit attitude dan kekasaran berkharisma. Terutama lewat
steely,staccato guitars, trampling beats dan roaring vocals, membuat lagulagu
mereka terdengar kompleks aransemennya, apalagi ditunjang hooks dan
groove yang menawan.
Berawal dari jamming bareng antara Childress dan London yang telah
menjadi kawan akrab sejak masa sekolah, mereka kemudian menciptakan
band yang menjadi cikal bakal Sanctity. Pada awalnya mereka membawakan
variasi genre musik, sampai kemudian London muak dengan musik Southern
Rock yang dibawakannya dan mulai memainkan musik agresif yaitu metal.
Dalam waktu dua setengah tahun, Sanctity berganti-ganti vokalis dan bassis
sampai kemudian McEachern gabung setelah melihat show mereka di
kampusnya.
Sampai pada tahun 2000 band ini resmi terbentuk dan dinilai memiliki
keunikan tersendiri dengan menggabungkan gaya bermusik metal. Namun di
tengah proses rekaman di studio, mereka mesti kehilangan bassis mereka
yang keluar hingga mesti digantikan oleh Derek Anderson untuk sementara.
Mereka begitu antusias saat proses rekaman album pertama tersebut. “ Ini
rekaman pertama kita dan saya begitu antusias,” ujar McEachern. “Tapi saya
melihat kedepan dan merasa tidak sabar untuk merekam yang kedua, ketiga,
dan keempat dan seterusnya. Ini hanya baru awal saja dari proses luar biasa
yang saya tunggu sepanjang hidup saya.”
Sanctity mungkin dianggap sebagai sebuah band seperti halnya Megadeth,
Slayer, dan Metallica, tapi 10 tahun dari sekarang, sebuah generasi band
metal akan dengan mudah terinspirasi dari Road To Bloodshed dan akan
banyak band metal yang mengikuti Sanctity. Berbahaya!!!!
SEX, GENDER, AND WOMENS RIGHTS : DEAL WITH THE GIRLS
Perempuan seringkali dianggap sebagai makhluk yang sarat dengan segala kekompleksifitasannya yang
membingungkan. Kebanyakan laki-laki merasa perempuan terlalu sensitif dalam banyak P hal, sementara perempuan menganggap laki-laki terlalu cuek dan logis saat menghadapi sesuatu. Perbedaan itulah yang
melatarbelakangi munculnya anekdot bahwa laki-laki adalah makhluk dari planet Mars dan perempuan berasal dari
planet Venus. Mereka berkumpul di Bumi dan berinteraksi satu sama lain, memunculkan kompromi dan pertentangan
sebagai bumbu dari hubungan kedua makhluk yang saling membutuhkan.
Lalu, seperti apakah sebetulnya makhluk yang disebut ‘perempuan’ itu? Apa saja yang ada dalam pikiran mereka? Arina
(Mocca), Widi (Lass), Dian (Hollywood Nobody), dan Kiki-chan (Olive Tree), disela-sela kesibukan masing-masing,
mereka berkumpul bersama dan menjawabnya untuk kamu.
Apa kesibukan kalian akhir akhir ini?
Arina: Baru selesai rekaman, mixing, macemmacem
lah, pokoknya untuk persiapan album
ketiga. Sisanya hanya menganggur saja.
Kiki: Aku gitu-gitu aja sih, ngurus jahitan
dirumah, ngeband, dan jadi asisten dosen.
Dian: Kesibukannya adalah bermain musik,
bekerja sebagai law officer dan juga di sebuah
international non governmental organization. Itu
saja.
Pencapaian apa yang ingin kalian dapat dari
kegiatan bermusik kalian?
Arina: Kalau saya mengharapkan dapet uang
dari situ. Saya inginnya terus bekerja tanpa
susah payah dan stres, soalnya saya pengennya
senang terus. Jadi saya mengandalkan musik
untuk semua hal (tertawa).
Dian:Wah, itu adalah impian semua orang! Gue
juga pengen seperti Arina. Tapi kayaknya terlalu
cepat untuk nanya ke gue sekarang, karena gue
baru banget di ”industri” ini.
Kiki: Kalau soal pencapaian, pinginnya ya
setinggi-tingginya sih. Pokoknya aku akan tetap
berusaha semaksimal mungkin, apapun
hasilnya. Let it flow lah.
Katakanlah saat ini dunia musik masih
didominasi oleh laki laki. Bagaimana dengan
kalian sebagai perempuan di dunia musik
tersebut? Apa pernah merasa ada kesulitan?
Arina: Saya sebelum membentuk band ini sudah
berteman dengan anggota band yang lain sejak
tahun 1995, jadi saya udah kebal lah
menghadapi mereka (tertawa). Soal gender
sudah bukan isu lagi diantara kita. Paling banter
keuntungan yang saya dapat itu disediain kamar
sendiri oleh panitia kalo main diluar kota. Tapi
itu juga jarang sih, seringnya ditumpuk-tumpuk
gitu aja (tertawa).
Dian: Perbedaan gender itu bukan masalah di
band gue. Kebetulan aja gue perempuan, dan
juga gue yang membentuk band itu. Jadi mereka
tetap mendengarkan kata-kata gue, tanpa
melihat gue perempuan atau bukan.
Kiki: Kalo aku rada dispesialin dikit sih. Jadi kalo
aku lagi sensitif, mereka ngerti dan diem aja
ngedengerin aku marah-marah (tertawa).
So, terlepas dari musik, apa kalian pernah
merasakan langsung adanya diskriminasi
antara laki-laki dan perempuan
dalamkehidupan sehari-hari?
Kiki: Aku sih kalo masalah pulang malem karena
ngeband. Aku masih tinggal bareng mertua, jadi
nggak enak. Padahal suami aku juga ngeband,
mau nginep di luar kota pun it’s ok.. jadi itulah
perbedaan perempuan dan laki-laki yang aku
rasain.
Dian: Gue juga sama. Untuk urusan kerjaan
resmi gue aja susah, apalagi untuk urusan band.
Kayaknya cowok gak kayak gitu.
Arina: Wah, itu malah gak pernah kejadian sama
saya dari kecil. Saya mau pulang jam 10, 11 atau
jam 2 subuh sekalipun gak masalah. Aneh
memang keluarga saya (tertawa). Tapi kerasanya
waktu dulu saya gabung sama band yang isinya
cewek semua. Penonton cowok itu sering
memandangi kami seperti ‘binatang-binatang
kelaparan’. Mereka kalo ngeliat cewek
dipanggung tuh gak objektif. Bukan ngedengerin
musiknya, tapi liat yang lain-lain.
Apa betul kalau perempuan itu lebih ambisius
daripada laki-laki?
Dian: Tergantung orangnya masing-masing sih.
Kalau gue ambisius.
Arina: Berhubung saya orang yang nunggu bola,
saya sih sama sekali nggak ambisius. Mungkin
saya adalah kaum minoritas di antara perempuan
(tertawa).
Widi: Kebanyakan sih perempuan emang gitu.
perempuan pun bisa lebih baik daripada lakilaki
dalam bidang tertentu?
Dian: Kalo gue pribadi, terlepas dari gue wanita
atau bukan, gue memang terbiasa untuk
berusaha mendapatkan apa yang gue mau. Dan
apa yang gue mau itu banyak! Orang-orang
jadinya menganggap gue ambisius.
Arina: Kalo saya hanya ambisius saat main
game. Dan itu parah banget. Tapi saya gak
melakukan itu karena saya perempuan, saya
hanya gak mau dikalahkan orang dalam
permainan (tertawa).
Widi: Kalo saya ambisius dalam hal tidur
(tertawa).
Kiki: Aku ambisius kalo ada yang aku suka.
Ngejar cita cita, misalnya.
Kalau secara umum, apa sih yg diperjuangkan
oleh perempuan dengan “emansipasi wanita”
itu? Apakah ingin setara dengan laki-laki
dalam segala hal atau bagaimana?
Arina: Saya tidak pernah peduli masalah itu,
sebenarnya.
Dian: Sebenarnya emansipasi wanita itu
menuntut hak untuk memilih jalan hidup mereka
sendiri, tanpa harus didikte oleh ‘kaum’ yang
lain. Kalo untuk hal itu gue setuju saja. Tapi kalo
yang diperjuangkan adalah ‘kesetaraan’, gue gak
setuju. Karena wanita dan laki-laki itu memang
pada dasarnya berbeda, dan posisinya gak perlu
dibanding-bandingkan.
Kiki: Emansipasi untuk lebih lepas berekspresi
dan mengeluarkan semua kemampuan kita. Di
zaman sekarang kita udah bebas untuk
mengungkapkan keinginan kita. Dan kita punya
hak untuk berekspresi.
Widi: Sebenarnya mungkin untuk lebih
didengerin aja suaranya. Dan ada kompromi.
Kalau begitu, dengan adanya tuntutan
emansipasi itu membuktikan memang adanya
batasan/perbedaan antara perempuan dan
laki-laki. Lalu menurut kalian, apa sebetulnya
yang boleh dilakukan dan tidak boleh
dilakukan oleh perempuan?
Widi: Yang tidak boleh itu, poliandri! Padahal
saya mau (tertawa).
Dian: Yang gak boleh dilakukan adalah kencing
berdiri (tertawa).
Arina: Menurut saya, sebetulnya ga ada masalah
antara laki-laki dan perempuan. Jadi saya yakin,
sebelum kita dilahirkan, kita dikasih pilihan
Itulah mungkin yang menyebabkan suami-suami
korupsi (tertawa).
Apakah mungkin secara sadar atau tidak
sadar, hal itu merupakan pembuktian bahwa
untuk menjadi laki-laki atau perempuan.
Pokoknya semuanya ada konsekuensinya. Nggak
nyambung ya? (tertawa)
Menurut kalian apa kelebihan perempuan
dibandingkan laki-laki?
Widi: Perempuan kalo pake baju seksi jadinya
bagus. Kalo laki-laki nggak (tertawa).
Arina: Saya tuh gak percaya gender, jadi gimana
ya?! Tapi perempuan tuh lebih mengandalkan
perasaan, intuisi. jadinya kita lebih peka
daripada laki-laki.
Dian: Perempuan mempunyai cuti 117 hari
setahun untuk cuti hamil, dan lain-lain.
Sementara laki-laki tidak mendapatkan itu.
Nah kalau kekurangan perempuan daripada
laki-laki?
Widi: Nah itu, gak bisa poliandri! (tertawa)
Arina: Saya sih masih menyangkut kelebihan
yang tadi. Perempuan itu cenderung berpikir
Kadang saya melihat ada perempuan yang
tidak suka bergaul dengan perempuan lain,
mereka cenderung untuk bergaul dengan lakilaki.
Menurut kalian apa penyebabnya?
Widi: Perempuan itu suka gap-gap an, susah,
karena kebanyakan pake emosi.
Arina: Kalo saya, tidak menyangkut soal laki-laki
yang gak penting karena kami terlalu peka.
Cowok itu lebih praktis dan logis dalam
menyikapi banyak hal.
Ok, pernahkah kalian berharap untuk menjadi
laki-laki?
Widi: Saya sih jadi perempuan aja, yang
dikelilingin laki-laki (tertawa).
Kiki: Nggak.
Dian: Nggak.
Arina: Saya itu percaya adanya reinkarnasi. Dan
saya yakin, di kehidupan saya dulu, saya adalah
laki-laki.
Kadang saya melihat ada perempuan yang
tidak suka bergaul dengan perempuan lain,
mereka cenderung untuk bergaul dengan lakilaki.
Menurut kalian apa penyebabnya?
Widi: Perempuan itu suka gap-gap an, susah,
karena kebanyakan pake emosi.
Arina: Kalo saya, tidak menyangkut soal laki-laki
dan perempuan. Dari dulu teman saya memang
sedikit. Karena saya hanya mencari orang-orang
yang membuat saya nyaman. Orang yang bisa
mengerti saya sedikit, karena kadang-kadang
saya suka aneh kan? (tertawa)
Dian: Kalo gue tuh takut sama perempuan.
Karena perempuan itu adalah ‘the most political
being’. Sedikit banget dari mereka yang bisa
benar-benar dianggap ‘teman’.
Kiki: Kalo aku punya banyak teman cewek dan
teman cowok. Jadi, gak ada masalah.
Sebetulnya kenapa perempuan suka sekali
shopping, meskipun kadang kalian tidak
membeli apa-apa?
Dian: Gue gak bisa kalo gue pergi dan gak
membeli sesuatu yang gue inginkan. Itu bakal
menyiksa banget. Gue harus beli yang gue mau,
meskipun saat itu gw gak punya duit. Dan itu
adalah kebiasaan buruk gw. banget. Gue harus
beli yang gue mau, meskipun saat itu gw gak
punya duit. Dan itu adalah kebiasaan buruk gw.
Kiki : Kalau aku, kebetulan sangat suka sekali
jalan-jalan. Jadi, hanya ngeliat-liat yang lucu-lucu
pun udah puas. Dan rasanya kebanyakan
perempuan pun seperti itu.
Arina: Soalnya di kota itu gak ada hiburan lain,
hanya ada pusat perbelanjaan, bioskop, dan cafe.
Paling hanya makan-makan, belanja, atau
nonton. Kalau mau jalan-jalan yang sehat ya
jalan-jalan aja disekitar kompleks rumah. Tapi
saya pribadi gak suka belanja karena saya sangat
bodoh dalam hal menawar barang.
Widi: Saya mendingan dirumah, karena saya gak
suka keramaian.
Kenapa perempuan kalo ke toilet sukanya
rame-rame?
Widi: Kalo saya sih nggak. Paling ditemenin kalo
ada masalah, women stuff lah.
Arina: Nggak ah. Kalo saya lebih suka sendiri.
Kiki: Kalo aku, iya! Kita ngobrolin macemmacem,
sambil dandan, mematut-matut diri
depan cermin. Memang sih sebetulnya gak
penting, tapi menyenangkan (tertawa).
Kalau saya lihat, sepertinya perempuan itu
sering kontradiktif ya? Satu sisi mereka ingin
dianggap setara dengan laki laki. Tapi kadang
dalam situasi tertentu mereka sering berkelit
dengan kata-kata, ”namanya juga perempuan!”
Kalau begitu, bukannya perempuan sendirilah
yang membuat diri mereka berbeda dengan
laki-laki? Menurut kalian?
Kiki: Ya iyalah, perempuan itu lemah. Masa kita
disuruh ngangkut-ngangkut kulkas? (tertawa)
Itulah gunanya laki-laki sebagai pahlawan kita…
Dian: Laki-laki itu gunanya untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan kasar! (tertawa)
Widi: Sebetulnya dua-duanya nyari masalah.
Itulah cara mereka untuk menarik perhatian satu
sama lain.
Arina: Jadi sama aja. Soalnya laki-laki pun sering
kali merasa superior. Otomatis mereka merasa
posisinya di atas kita. Jadi mungkin yang
berteriak ingin kesetaraan itu adalah mereka
yang merasa terinjak-injak. Kalo saya sih cuek.
Kalian setuju dengan feminisme?
Dian: Menurut gue apa yang mereka perjuangkan
itu missed concept. Intinya, gue gak peduli.
Arina: Nggak penting.
Apa tanggapan kalian mengenai ‘eksploitasi
perempuan’ yang akhir-akhir ini tampaknya
menjadi isu di mana-mana? Apa sebetulnya
yang dieksploitasi?
Widi: Saling mengeksploitasi, kali? Intinya sih ada
permintaan dan ada penawaran.
Dian: Mungkin eksploitasi secara fisik.
Arina: Mungkin karena tubuh wanita itu menarik.
Sebuah komoditi yang patut diperjual belikan.
Apa pendapat kalian mengenai perempuan
yang difoto telanjang? Meskipun modelnya
setuju untuk difoto seperti itu, apakah itu
masih termasuk eksploitasi?
Dian: Berarti perempuan itu mengeksploitasi
dirinya sendiri.
Arina: Bebas sih.
Widi: Mungkin modelnya butuh uang.
Tergantung pilihannya aja (tertawa).
Kebanyakan laki-laki tertarik dengan gambargambar
tubuh perempuan. Apakah perempuan
juga tertarik dengan gambar tubuh laki-laki?
Kiki: Kalo aku tertariknya sama tubuh suami aku
(tertawa).
Widi: Nggak.. kalo saya malah geli ngeliatnya.
Dian: Kayaknya tergantung pribadi masing- suka,
masing ya? Ada yang suka, ada yang nggak. Kalo
gue, gak tuh.
Hal apa dari laki-laki yang bisa membuat
kalian turn on?
Arina: Mata!
Widi: Bau rokok.
Dian: Mata.
Kiki: Jambang! (tertawa)
Turn off?
Girls: Bau badan!! Cowok berkumis! Sebaiknya
mereka mencukur kumis mereka tiap hari karena
itu menggelikan! Dan cowok ganteng yang sadar
kalo mereka ganteng!
Ok, buat yang belum menikah, kalian
memandang pernikahan itu seperti apa?
Arina: Menikah itu gak wajib, menurut saya. Tapi
kalau mau tampak normal di dunia ini, memang
harus menikah. Tapi semua itu adalah pilihan.
Dian: Kalo gue gak tau mau menikah atau tidak,
tapi kayaknya sih akan menikah. Gue terlalu
takut memikirkan pernikahan itu seperti apa.
Buat yang sudah menikah, apa perbedaan
yang kalian rasakan sebelum dan sesudah
menikah?
Kiki: Apa ya? Paling tidur bareng. Gak terlalu
banyak yang berubah, sebetulnya. Paling
kewajiban untuk membuat kopi untuk suami di
pagi hari, meskipun kenyataannya, suami aku
yang lebih sering buatin kopi, karena saya masih
tidur. Nikmat… (tertawa)
Widi: Karena suami saya juga suka diem di
rumah, jadi kewajiban saya nambah (tertawa).
Seberapa penting virginitas menurut kalian di
masa kini?
Dian: Sudah gak penting lagi untuk orang-orang
yang mengadopsi budaya seks bebas. Kalo
menurut gue, penting.
Arina: Kalo saya, tidak tahu…
Widi: Sekarang kayaknya sudah biasa. Lebih ke
tanggung jawab masing-masing aja.
Apa yang ada dalam pikiran kalian saat
mendengar kata seks?
Dian: Jenis kelamin. Kalo di paspor, kan ditulis
’sex’. Female atau male (tertawa).
Widi: Bikin anak! (tertawa)
Arina: Hubungan cinta kali ya? Saya juga
bingung.
Menurut kalian, seks itu adalah produk dari
cinta atau sesuatu yang berdiri sendiri?
Widi: Berdiri sendiri!
Kiki: Kalo aku, cinta lah ya. Karena seks itu
indah.
Arina: Itu adalah suatu ketertarikan antar satu
sama lain.
Di majalah-majalah khusus perempuan
seringkali ditampilkan artikel-artikel tentang
seks. Seperti teknik berciuman, posisi
bercinta, dan lain-lain. Apa sex education
sangat penting untuk perempuan?
Kiki: Kalo itu sih buat masukan aja.
Widi: Di sini tuh masalah seks masih tabu, jadi
bacaan-bacaan seperti itu perlu sebagai referensi
pada saat diperlukan (tertawa).
Dian: Sex education itu penting untuk semua
jenis. Tapi untuk gue pribadi, gue ngerasa gak
butuh.
Arina: Lagi-lagi saya belum dapat kesempatan
untuk studi lapangan (tertawa). Belum ada waktu
untuk praktek kerja, jadi belum penting untuk
dibaca.
Apa betul kalau libido perempuan itu lebih
tinggi daripada laki-laki?
Kiki: Kadang-kadang iya sih (tertawa).
Widi: Sebenarnya tergantung orangnya. Kalo
saya, kebanyakan iya! (Tertawa)
Dian: Gue gak tau libido laki-laki itu setinggi apa,
jadi gue gak bisa ngebandingin.
Arina: Ya, saya juga gak tau, karena saya belum
dapat kesempatan untuk studi banding (tertawa).
Hmm, kalau kalian membayangkan ’seks
pertama’ itu akan seperti apa?
Dian: It supposed to be.. indah. Tapi gue gak
tau.
Kiki: Penasaran, ‘bentuk’nya seperti apa. Ngintipngintip
gitu, surprise! (tertawa)
Arina: Mungkin itu akan menjadi kesempatan
pertama untuk mempelajari anatomi tubuh itu
seperti apa.
Buat Kiki dan Widi yang sudah menikah,
proses untuk menuju ‘itu’ bagaimana? Apakah
ada obrolan-obrolan atau gerakan-gerakan
tubuh tertentu? (tertawa)
Widi: Gombal-gombalan dulu gitu (tertawa).
Kiki: Pengalaman pribadi aku tuh lucu banget. Ya
gitu deh (tertawa).
Eh, apa ada yang sudah pernah mencoba
memakai sex toy?
Kiki: Pengen nyoba sih (tertawa), penasaran.
Dulu di Singapura pernah liat-liat yang kayak
gitu, tapi malu belinya (tertawa).
Widi: Kalau alat-alat yang gitu sih belum pernah,
nggak tau belinya di mana (tertawa). Saya
sukanya pakai tali-tali sama borgol gitu, soft
hardcore. Saya pencinta hardcore! (tertawa)
Dian: Belum, dan sepertinya nggak akan pernah.
Arina: Belum pernah.
Apa tanggapan kalian mengenai hubungan
sesama jenis?
Arina: Sama aja sih, buat saya itu nggak
masalah. Masyarakat aja yang menganggap itu
tabu.
Dian: Kalau gue nggak terlalu peduli. Itu hanya
dua jiwa yang saling menyukai, mengenai jenis
kelaminnya sama ya nggak masalah. Terserah
mereka saja.
Kiki: Bebas! Itu hak masing-masing orang.
Widi: Wah, kalau menurut saya, mereka tuh
terlalu hiperbola. Nyusahin diri sendiri.
Ok, kalau menurut kalian sosok perempuan
ideal itu seperti apa?
Arina: Kalau saya mungkin lebih ke sosok
manusia yang ideal ya. Yang ideal itu adalah
yang bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri,
dan menjalankannya dengan penuh tanggung
jawab.
Dian: Manusia yang sudah menentukan tujuan
hidupnya sendiri dan menjalankannya.
Kiki: Orang yang jujur dan baik (tertawa).
Siapa tokoh wanita idola kalian?
Arina: Saya sendiri.
Dian: Wah, kalau gitu idola gue Arina deh
(tertawa).
Widi: Karakter diri saya sendiri di game Ragnarok
Online (tertawa).
Kiki: Ibu aku.
Beautifu-L-World : Lesbian Girls In A Patriarchal World
Hmmm… Lesbian tentu selalu menjadi tema menarik. Nggak hanya cowok aja yang
suka ama cewek, tapi cewek juga ada yang suka sama cewek
tentu menarik sekali
jika membicarakan kehidupan personal lesbian terutama dilematis mereka dalam
budaya patriarki atau dominasi laki-laki. Saya menemui tiga gadis lesbian yaitu Arie
Dandagara, Shakuntala, dan Angela Bianca. Beberapa nama mereka adalah samaran.
Bagaimana mereka bercerita banyak soal kehidupannya sebagai lesbian seperti Arie
yang lesbian dan berteori bahwa seks itu ibarat es krim yang cair, Shakuntala yang
menikah dengan seorang pria tapi menjalin kasih dengan ceweknya dan menolak
disebut biseks, dan Angela Bianca bercerita jika ia normal hanya ada tiga pria yang
ingin ditidurinya.hmmm… interesting! Enjoy it….
Rabu malam, pusat kebudayaan Perancis.
Saya tiba-tiba menerima telepon dari Arie bahwa interview lebih baik dilakukan di pusat kebudayaan
Perancis ketimbang di salah satu fast food berhuruf M besar. It’s ok, pikir saya. Lagian please deh mesti
interview di sebuah fast food restaurant. Nggak nyaman banget gitu. So,dengan langkah besar saya segera
menyusuri toko buku terbesar di Bandung ini menuju Pusat kebudayaan Perancis yang tepat berada di
belakang Toko Buku ini. Sesampainya di sana, Arie segera melambaikan tangannya dan memanggil nama
saya, padahal kami belum pernah bertemu apalagi berkenalan tatap muka. Mungkin dia menduga saya (dan
beruntungnya dugaannya itu ternyata benar) ketika saya baru saja menjejakkan kaki di halaman parkir,
padahal saat berbicara lewat telepon kami tidak mengidentikkan diri kami lewat ciri secara langsung seperti
“hei… ntar kamu pakai baju apa atau rambutnya gimana”, layaknya cowok dan cewek berjanji lewat chatting
yang tanpa identitas jelas. Semua terjadi begitu saja. Lewat sedikit lambaian dan panggilan nama, saya
langsung tahu bahwa itu adalah Arie Dandagara, orang yang saya cari selama ini. Padahal waktu itu saya
sempat ingin meneleponnya karena nggak tahu orangnya di mana hahaha…
Yup, call her name is Arie Dandagara. Sebuah nama yang cantik. Dandagara berarti “Negeri Yang Indah”
dalam bahasa Aborigin. Ia menganalogikan bahwa meski negara Australia terkenal lewat gurun kering dan
tandus, namun masyarakat Aborigin di sana tetap mencintai pilihannya dengan menyebut bahwa negerinya
ini adalah negeri yang indah. Begitupula dengan Arie. Ia merasa meski menjadi seorang lesbian, ia tetap
merasa bahwa dirinya indah, seindah namanya, dan masih diberi karunia banyak sama tuhan.
Pusat Kebudayaan Perancis ini tampak sekali ramai. Kafe didepannya yang kami tempati bisa dikatakan
penuh oleh manusia-manusia yang sedikir merehatkan tenaga dan pikiran. Sebelumnya, terdapat diskusi
filsafat dan Arie hadir sebagai salah satu peserta yang hadir. Kami mengatur janji interview pun sesudah
acara diskusi ini. Namun, beberapa orang yang ada di kafe ini tampak sibuk dengan kepentingannya
masing-masing. Seolah meja-meja di sini sebagai tempat curhat setia bagaimana relasi manusia dengan
manusia saling berbicara dan berceloteh banyak hal.
Begitu saya datang mengambil tempat duduk dan
memesan teh botol, tak ada tampak ketakutan
Arie selama ini. Maklum, ketika berbicara di
telepon beberapa hari sebelumnya, Arie tampak
ragu-ragu untuk diinterview. Ia merasa
kebimbangan karena ada semacam traumatik kecil
dengan para jurnalis sebelumnya yang seringkali
berbeda persepsi dengan dirinya. Berbeda soal
idealis lesbi dengan dirinya. Namun, setelah saya
paksa dan dengan sedikit dorongan temannya,
akhirnya ia sedikit cair juga seperti halnya
minuman teh botol yang terhidang tepat di hidung
kami.
Ia menuturkan tentang permasalahan perbedaan
persepsi selama pengalamannya diinterview
hingga menjelaskan teori seksualitas Keyness. Ia
menuturkan bahwa seksualitas itu sifatnya sangat
cair. Karena sifatnya itu, ia tidak menyangkal jika
suatu saat dirinya akan kembali menjadi seorang
heteroseksual, bukan homoseksual (saya akan
menyingkirkan kata “normal” atau “abnormal”).
Atau tak bisa disangkal pula seorang
heteroseksual akan menjadi seorang
homoseksual. Atau seorang homoseksual yang
jadi heteroseksual kemudian kembali lagi menjadi
homoseksual. Yup, karena seks itu sifatnya cair
dan fleksible. Tergantung pada titik di mana kita
berada. Arie juga menggambar teori tersebut
bahwa ada titik-titik seorang manusia dalam
seksualitasnya. Apakah ia berada di titik dominant
homoseksual atau berada pada titik heteroseksual
atau malah berada di titik keduanya yang biasa
disebut biseksual. “Misalnya, ada seorang cowok
yang berada di titik mana? Jika ia menyukai
seorang Johnny Depp lebih dari seorang fans atau
bisa dikatakan cinta, maka bisa dibilang bahwa si
cowok itu berada pada titik dominant
homoseksual, meski tidak bisa kita bilang bahwa
si cowok itu homo! Yeah, karena seks itu memang
sangat cair sifatnya,” terang Arie panjang lebar.
Sosoknya berkacamata dengan rambut diuntai.
Dari gaya berbicaranya, ia terlihat seperti seorang
puitis-romantis yang menyukai hal-hal berbau
sensitif. Bisa dikatakan, menyukai hal-hal yang
memiliki makna dalam dan jauh. Terdengar
filosofis, tapi memang seperti itu apa adanya.
Buktinya saja, ia sering hadir ke berbagai forum
diskusi seperti diskusi seputar filsafat Perancis
yang baru saja diikutinya. Dari kesukannnya saja,
bisa tertebak bahwa cewek ini memang menyukai
hal-hal serius dan memiliki makna atas segala hal.
Sepintas mungkin banyak yang tidak menyangka
bahwa ia memiliki sense-to-depth. Dari
penampilan luarnya mungkin terlihat tomboy dan
cuek. Tapi ketika mengajaknya berbicara,
terutama soal sastra, film, dan musik jazz maka ia
bisa berceloteh tentang kesukaannya tersebut.
“Gw suka musik jazz karena musiknya seksi. Dan
gw selalu merasa seksi ketika ngdengerin jazz.
Gw juga suka musik dengan lirik-lirik yang dalam
kayak Radiohead, Duncan Sheik, Tori Amos, Sore,
karena lirik mereka tajam Sedangkan film gw suka
Martin Scorsese. Gw juga suka Steven Spielberg
karena bisa ngaduk emosi. Gw juga suka film
tentang lesbian. Karena gw tipe orang yang suka
memaknakan semua hal, gw suka film yang
bermakna. Bahkan dari film kocak dan enteng
juga kita bisa mengambil maknanya. Gw selalu
mencari makna pada segala hal. Dari yang
tingkatannya rumit pada yang tingkatannya
ringan. Gw suka pada matahari terbit, gw suka
pada senja, gw suka sama malam. Gw suka selalu
memaknakan pada segala hal. Gw seorang yang
puitis,” ujarnya panjang lebar membeberkan
segala sesuatu yang disukainya.
Saat ini Arie berkonsentrasi untuk kuliah di salah
satu perguruan tinggi negeri di Jatinangor sambil
sesekali menjadi model freelance buat sejumlah
fotografer atau pelukis. Selain itu, dia juga aktif
mengikuti milis-milis komunitas lesbian seperti
Indonesia Lesbian Forum (www.voy.com/6346/)
dan milis Institut Pelangi Perempuan adalah
beberapa diantaranya. Sesekali ia terlibat diskusi
entah itu sebagai seorang narasumber atau
partisipan. Hari-hari dan aktivitas yang dilaluinya
tak jauh layaknya masyarakat umum dengan
labirin aktivitas yang sama.
Biasanya seorang lesbian mengikuti forum lesbian
hanya untuk sekedar menumpahkan perasaannya
dengan teman sesama komunitas atau juga
eksistensi di komunitasnya. Beberapa diantaranya
malah demi sekedar mencari informasi dan
aktualisasi seputar lesbian. “Yah, karena gw
Gemini jadi gw eksis hahaha… Narsis hehehe… “
ujarnya sedikit bercanda ketika saya tanya
alasannya mengikuti milis lesbian. Apakah buat
curhat atau sekedar eksis doang? “Kalau buat gw
sih, gw memang pengen cari temen karena gw
awareness tentang lesbian. Waktu itu sangat susah
mencari informasi tentang lesbian. Cari kesanasini
dan internet memang membantu banget.
Mulai SMU kelas 2 gw declare to myself bahwa gw
ini lesbian. Jadi perjalanannya panjang dan ada
masa-masa denial-nya. Yang paling berat jadi
lesbian bukan penolakan dari orang lain,
masyarakat, atau orang tua, tapi penolakan dalam
diri lu sendiri bahwa “Oke gw lesbian”. Lebih pada
suatu proses mengamini,” terang Arie panjang
lebar menjelaskan proses panjangnya itu.
Ia bercerita tentang proses panjangnya sebelum
akhirnya mengamini bahwa dirinya seorang
lesbian. Ceritanya, ketika masa remajanya, ia
mengakui memiliki ketertarikan dengan seorang
perempuan begitu saja. Banyak masyarakat awam
yang menduga bahwa perilaku lesbian seringkali
karena latar belakang social atau traumatic yang
berkepanjangan seperti pengalaman diperkosa,
hubungan yang buruk dengan laki-laki, dsb.
Namun, menurutnya pandangan tersebut sama
sekali tidak benar. Lesbian itu adalah sebuah
pilihan. Mungkin sama halnya dengan pilihan pada
kultur punk hardcore untuk menjadi seorang
straight edge.
Karena pilihannya tersebut, Arie mendeklarasikan
bahwa dirinya itu menjadi seorang lesbian saat
SMU kelas 2. Padahal sebelum itu ia sempat pula
pacaran dengan seorang cowok namun merasa
nggak nyaman. Berbeda ketika berhubungan
dengan seorang cewek. Karena perasaan dan
kejujurannya, ia mulai pacaran dengan seorang
cewek yang dikenal lewat chatting. Kemudian
lewat dunia maya itulah ia mengenal banyak
karakter lesbian. Bahkan menurutnya, di
komunitas lesbian juga terdapat pendangan
negative terhadap kaum heteroseksual.
“Padahal saat kita memutuskan untuk menjadi
lesbian, adalah mengakui perbedaan yang ada dan
menghargai perbedaan yang ada. Secara global
ada masalah seperti itu di komunitas lesbian di
Indonesia. Jadi, kompleks memang masalahnya.
Mungkin analogisnya sama dengan kita
menganggap orang gila itu gila, sementara orang
gila yang menganggap bahwa orang waras itu gila.
Tapi gw nggak menyalahkan pada orang-orang
heterophobic, karena tekanan pada seorang lesbian
memang kuat,” kata Arie panjang lebar.
Labirin Budaya Patriarki
Dalam konsepsi masyarakat umum di Indonesia atau
budaya patriarki yang dianut menjelaskan bahwa lakilaki
dinilai lebih dominant dibandingkan dengan
seorang perempuan. Dalam segala aspek kehidupan
social, laki-laki dianggap memiliki more power
daripada perempuan. “Seperti yang gw bilang bahwa
perempuan itu nomor dua, berarti lesbian sudah
terpinggirkan banget,” ujarnya satir.
Arie menuturkan bahwa tekanan menjadi seorang
lesbian di Indonesia yang selalu terlingkupi so-called
budaya ketimuran, memang terasa berat. Beda dengan
kasus homoseksualitas gay cowok dengan cowok yang
bisa lebih transparan di Indonesia. Contoh kecilnya,
banyak selebritis gay seperti Oscar Lawalatta yang bisa
diterima oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa salah
satu faktornya adalah budaya timur Indonesia yang
menganut sistem Patriarki. Jika menyebut tokoh
lesbian di Indonesia kan belum ada tokoh yang berani
mendeklarasikan dirinya lesbi ke masyarakat.
“Masyarakat kita justru lebih berterima pada gay
cowok ama cowok, karena kita budaya patriarkal,
lesbian ini sangat susah. Pada akhirnya teman-teman
lesbi memang punya sedikit tempat bercerita. Di
forum, di dugem, di hotel, atau di tempat-tempat yang
berpersepsi negatif. Pada akhirnya orang awam
mengeneralisasikan bahwa menjadi lesbian itu is a
bad habit! Itulah susahnya menjadi seorang lesbian di
Indonesia.”
Karena kesulitan tadi, kadang seorang lesbian mesti
berkompromi dengan tuntutan social. Salah satu
pilihannya yaitu menikah dengan laki-laki. Biar gak ada
prejudice ataupun hanya untuk mendapat jaminan
social saja. Sebut saja namanya Shakuntala. Ia yang
datang bersama Arie ini mengaku bahwa ia seorang
lesbi tapi memutuskan menikah dengan seorang lakilaki.
Ia menolak untuk disebut biseksual, karena hati
dan kejujurannya lebih mencintai perempuan. Cewek
berkerudung ini mengaku bahwa kini dirinya tengah
berhubungan dengan seorang cewek di Yogyakarta,
tanpa sepengetahuan suaminya ini. Arie dan
Shakuntala mengaku ini hanya masalah kejujuran saja.
Bahkan menurut penelitian di Amerika bahwa lesbi
bukanlah disebut sebagai penyakit social, akan tetapi
akan menjadi penyakit jika si cewek itu tidak jujur
bahwa dirinya lesbi padahal ia menyukai seorang
perempuan. Sederhananya, kejujuran dan ketulusan
hati untuk memilih kemana hatinya berada.
Menurutnya, salah satu yang menyebabkan kenapa
lesbi susah berkembang adalah karena faktor tekanan
pada struktur masyarakat Indonesia. Selain budaya
patriarki, karena faktor tekanan social itu membuat
seorang cewek lesbi sulit untuk jujur pada dirinya
sendiri atau orang lain bahwa dia itu lesbi. Berbeda
dengan di negara Barat yang lebih bebas karena nggak
ada tekanan pada struktur masyarakatnya. Karena
tekanan itu tadi, kadang-kadang seseorang yang di
cap anomaly gak bisa ngeluarin kejujuran mereka. Are
you normal or are you fucked up???
Berbicara tentang budaya patriarki, dalam lesbian
dikenal istilah Andro, Butch, dan Femme. Istilah ini
diadaptasi dari budaya patriarki. Butch diidentikkan
dengan seorang lesbi yang maskulin atau kecowokkan
seperti berambut pendek dan bertingkah laku seperti
cowok kebanyakkan, sedangkan femme adalah
seorang lesbi yang feminine atau keperempuanan, dan
Andro adalah salah satu sisi diantaranya seperti
Andro-butch atau Andro-femme.
Arie sendiri seringkali diidentikkan dengan Butch
atau Andro-butch. Sepintas gaya berpakaian dan
penampilannya memang seperti laki-laki, namun
dengan rambut panjangnya mengidentikkan jelas
bahwa ia adalah seorang cewek. Untuk itu ia
seringkali disebut dengan Andro-Butch. Meski
dengan begitu, ia sendiri menolak pelabelan yang
ada dalam kaum lesbian tersebut.
“Hal itu menurut gw parah! Karena itu ibarat kita
keluar dari suatu kotak tapi masuk ke kotak
lainnya. Pernyataan bahwa butch itu lebih perkasa
dibandingkan dengan femme. Bahwa femme lebih
lembut dibandingkan dengan butch. Nah yang
ditakutkan di sini adalah adanya kekerasan. Baik
itu kekerasan secara fisik maupun psikologis. Itu
sama pada budaya patriarchal yang terjadi pada
kekerasan di rumah tangga, misalnya. Bayangkan
itu terjadi pada kaum lesbian. Misalkan seorang
femme dipikul oleh butch, terus ngadu ke polisi,
mana mungkin ketika ngomongin bahwa pacarnya
ternyata cewek, itu parah banget! Seperti yang
udah gw bilang, udah mah dalam budaya
patriarchal perempuan itu udah terpinggirkan,
kemudian lesbi semakin terpinggirkan, apalagi
dengan seorang femme itu wah… sangat
terpinggirkan banget. Kita ini lesbian bukan
transeksual. Buat gw tidak masalah mau bergaya
andro, butch, atau femme. Tapi buat gw pelabelan
kayak gitu yang bakal membuat rantai kekerasan
dan gw pingin ngehilangin hal kayak gitu. Kalo ada
yang nanya label gw adalah lesbian. Gw no label
entah itu butch atau femme. Meski no label juga
sebagai sebuah label, menurut gw semua orang itu
butuh identitas. Pada akhirnya dunia lesbian ini
gak jauh beda dengan dunia heteroseksual. Udah
blurkan. What’s the different!!!” kata Arie panjang
lebar seraya berapi-api. “Boleh dibilang, simplenya
kayak gini: gw perempuan dan gw mencintai
perempuan terlepas dia labelnya itu apa, mau
butch atau femme kek,” lanjutnya.
“So far, berapa banyak orang tahu lu lesbian?”
tanya saya.
“Banyak. Keluarga juga tahu. Mesti mereka juga
berharap bahwa gw bakal balik lagi jadi
heteroseksual. Tapi dalam beberapa pertemuan
dengan keluarga besar, mereka cuman bilang
bahwa ok it’s your choice tapi jika suatu saat gw
ngeadopsi anak maka keluarga gw nggak
bakalan nerima. Yah, gak apa-apa karena hidup
itu kompromi dan gw mesti berkompromi ama
hal itu. Waktu dulu juga gw sempat dipingit, gak
boleh ngangkat telepon, gak boleh gaul, bahkan
ke sekolah pun antar jemput. Dan gw tahu
rumusnya, bahwa setiap orang tua itu ingin hasil
yang terbaik dari anaknya. Mereka ketakutan
berlebih bahwa dengan jadi lesbian maka
hidupnya akan hancur. Untuk itu gw mendobrak
hal kayak gitu. Meski gw lesbi, gw lulusan
terbaik di sekolah, gw masuk Universitas Negeri,
gw berprestasi, dan sebagainya. Lesbian yang
gw lihat dalam umur gw, ketika berkonfrontasi
dengan keluarga banyak yang memilih keluar
dari kehidupannya. Menurut gw yah yang baik
itu lu mesti bertanggung jawab ama diri lu. Kalo
lu mau jadi lesbian, yah jadilah lesbian yang
baik,” jawabnya diplomatis.
***
Siang Hari, Dunia Maya
Sama halnya dengan Arie Dandagara dan
Shakuntala, begitu pula dengan Bianca. Cewek
yang bekerja sebagai fashion stylist di ibukota
ini selalu merasa tertarik pada girls dan weird
fashion. Alasan yang membuatnya tertarik pada
cewek karena “they re sexually beautiful”
ujarnya singkat. “lebih
exciting….mmmh…pokoknya saya merasa
sexually lebih nyaman saja dengan cewe
daripada dengan cowo,” lanjutnya. Ia mulai
merasakan hal tersebut mulai dari SMU.
“Mmmh…semuanya kan ada prosesnya. Gak
tiba-tiba lalu ting! jadi sexually attracted to girls.
Kalo ditanya awalnya kapan tertarik sama
cewe…wah…ga inget lah.”
Sama halnya dengan Arie, Bianca juga paling
menolak dengan yang namanya pelabelan.
Menurutnya, ketika sedang bercinta, kaum
lesbian itu justru mesti ada equality. Bukan
pelabelan butch dan femme layaknya di budaya
patriarchal. Padahal alasan dia menyukai
bercinta dengan seorang cewek adalah karena
adanya perasaan equality.
“Ada memang lesbian yang menganut itu, butch
dan femme. Tapi buat saya itu patriarkis sekali.
ngga suka. Betul-betul tidak suka. Cewek lesbian
yang tidak menganut butch femme itu biasanya
dibilangnya “no label”. Dengan pelabelan butch and
femme, menurut saya itu bikin orang-orang gay jadi
terkotak-kotakkan. Sedangkan perempuan hetero aja
berjuang mati-matian untuk persamaan derajat
dengan laki-laki. Kenapa kaum gay malah
mengkotak-kotakkan dan malah menganut budaya
patriarkis?” ujarnya panjang lebar. “yah, walaupun
masih sering di cap oleh cewek lesbi lainnya bahwa
saya ini femme hanya karena penampilan yang
feminism.”
Untuk karakter cewek, Bianca merasa menyukai
seorang cewek yang tomboy, cerdas, dan tidak
membosankan.
“Orang awam mungkin bingung akan kepuasan
sexual yang kamu dapat, bisa ceritain atau kasih
penjelasan tentang itu,” tanya saya.
“Orang awam…hahahahahaha. Apa yah? Sama saja
dengan orang straight dengan lawan jenisnya lah.
Gak ada yang aneh atau lain. Saya suka payudara
dan vagina sama seperti kamu suka payudara dan
vagina hahaha…” katanya seraya sedikit bercanda
centil.
Setahun yang lalu Bianca sempat bercerita tentang
hubungannya dengan seorang cowok. Tapi saat
berhubungan dengan cowok itu ia merasa 70%
menjadi seorang lesbian. Ia lebih nyaman menjalin
hubungan dengan seorang cewek dibandingkan
dengan seorang cowok.
“Semua itu ada prosesnya. Kayak orang yang pelanpelan
bangun dari pingsan. Waktu sama cowo..i
thought i was straight. jadi ya enak-enak aja. Tapi
ketika mulai mengeksplore sama cewe, dan akhirnya
tidur dengan cewe, jadi seperti orang sadar
…wah…ternyata jauuuuuh lebih nyaman secara
sexual dengan cewe,” ujarnya. “cowokku yang
terakhir itu juga mendukung saya untuk cari tahu
lebih lanjut soal sex orientasi karena waktu itu
masih ragu kan dan saya sangat nyaman sama dia
karena kebetulan dia feminin sekali hehehehe…”
lanjutnya.
Bianca juga berujar panjang: “Saya janji, kalau saya
jadi straight lagi, cuma ada 3 cowo yang mau saya
tiduri, johnny depp, mantan saya yang feminin itu,
DEWI LESTARI
Tampaknya Indonesia tak pernah kehabisan generasi penulis perempuan sejak dari zaman N.H. Dini hingga generasi sekarang pada Dewi Lestari. Kita mengenal Dee, sapaan akrab Dewi Lestari, lewat novel trilogi Supernova yang fenomenal itu. Dari kaca mata penulis itulah kita akan menguak konsepsi perempuan menurut
seorang Dee dan rencana terbarunya seputar novel Supernova…
Halo apa kabar?
Halo lagi, kabar baik.
Konsepsi perempuan menurut Dee?
Hmm. Itu pertanyaan yang sulit bagi saya, karena
jawabannya tergantung level pertanyaannya. Dan
pertanyaan itu bisa berlapis, karena sebetulnya
konsep perempuan/laki-laki juga bisa dimaknai
secara berlapis. Realitas kita ini kan realitas yang
dualitas. Ada dua jenis gender, laki-laki dan
perempuan. Ada dua jenis energi, maskulin dan
feminin. Konsepsi perempuan paling dasar ya
kodrati fisiknya, ya. Bahwa perempuan itu
bentuknya ya begitu, bisa hamil, menyusui, dll,
jadi otomatis secara fungsi fisik/instrumen
tugasnya berbeda dengan laki-laki. Sisanya hanya
pengkondisian, bahwa perempuan harus
berambut panjang, feminin, suka warna pink,
suka curhat, itu lebih kepada pembentukan
massal dari masyarakat sejak kita kecil. Semakin
ke sini, dan berdasarkan pengalaman pribadi,
saya melihat bahwa teori dikotomis perempuan
dan lelaki lebih seperti generalisasi yang
mempermudah analisa sosial atau psikologi.
Tentunya faktor fisik lain seperti hormon, dsb juga
punya pengaruh. Tapi intinya, menurut saya
perempuan dan lelaki adalah manusia yang samasama
mengandung unsur energi maskulin dan
feminin. Komposisinya saja yang berbeda-beda
sesuai dengan keunikan individu yang memang
nggak ada yang sama.
Tokoh perempuan yang diidolakan?
Sejauh ini, Oprah Winfrey. Saya melihat dia seorang
humanis, bukan sekadar feminis.
Makna emansipasi wanita bagi seorang Dee?
Emansipasi di sini bisa dimaknai sebagai wawasan
bahwa cewek di era sekarang ini sudah punya hak
dan kesempatan sama dengan cowok, dan gerakan
ini sudah berjalan puluhan tahun. Banyak analisa
yang beredar mengatakan bahwa Bumi dan
kehidupan ini memang sedang bergeser dari
dominasi energi maskulin menuju feminin,
makanya mungkin termanifestasikan dengan
adanya emansipasi, dll. Jadi menurut saya
emansipasi ini adalah fenomena alam yang wajar.
Seorang Dee, biasa mendapatkan inspirasi
menulis saat kondisi seperti apa?
Biasanya kalau tergerak berpikir, berkhayal, jatuh
cinta, patah hati, atau gemas akan sesuatu.
Biasanya digerakkan oleh perasaan/emosi. Jadi bagi
saya, menulis itu punya efek terapetik juga, untuk
menyalurkan gejolak/keingintahuan apapun yang
terjadi di dalam diri.
Apakah mood sangat diperlukan saat proses
kreatif menulis?
Sejujurnya, iya. Apalagi waktu awal menulis. Tapi
makin ke sini, saya merasa menulis itu bisa
dijadikan disiplin, jadi faktor mood sudah nggak
terlalu mendominasi. Yang penting kita tahu batas
juga, kalau memang terasa banget nggak mood,
jangan terlalu dipaksakan juga. Tapi jangan juga
menjadikan mood sebagai alasan klasik untuk tidak
berkarya.
Setuju atau nggak dengan jargon klasik, “Wanita
Dijajah Pria Dari Dulu” dan “Wanita Makhluk
Yang Lemah”? Alasannya?
Ya itu tadi, karena kita bergerak dari dominasi
energi maskulin menuju feminin, jargon2 lama
tadi adalah ungkapan zaman. Barangkali dulu
benar faktanya begitu. Tapi zaman kan bergerak
dan berubah. Sekarang rasanya sulit sekali orang
menyetujui hal itu, karena kenyataan di lapangan
sudah tidak melulu demikian. Tentunya keadaan
ini belum merata, masih banyak perempuan yang
jadi objek kekerasan, ketidakadilan, dsb. Tapi itu
tidak bisa dijadikan generalisasi bahwa semua
perempuan lemah atau objek jajahan pria.
Apakah seorang Dee suka menuliskan curhatan
pada sebuah diary? Terus seberapa pentingnya
diary buat seorang perempuan?
Saya memang menulis jurnal secara rutin sejak
kelas 1 SMP, dari mulai di buku sampai di
komputer. Kayaknya itu hal paling konsisten yang
saya lakukan dalam hidup. Saya tidak merasa bisa
mewakili semua perempuan dalam perihal diary,
karena sesuai pengamatan saya, ada perempuan
yang menulis diary dan ada juga yang tidak. Tapi
mungkin umumnya perempuan lebih dikondisikan
untuk bebas mencurahkan perasaan, makanya
banyak perempuan punya diary.
Seperti apa biasanya karakter perempuan
ditempatkan dalam setiap tulisan novel Dee
seperti halnya karakter Diva dan Elektra?
Apakah karakter perempuan ini menempati
tempat yang istimewa?
Pada prinsipnya, saya ingin menampilkan figurfigur
unik yang memang ‘istimewa’, terlepas tokoh
itu laki-laki atau perempuan. Dan saya senang
menciptakan tokoh yang paradoksikal, yang tidak
terlalu stereotipe.
Correct me if I’m wrong, ketika saya
mencermati karakter perempuan dalam
Supernova kok saya nggak menemukan
karakter perempuan “biasa” yang feminim dan
dengan bedak dan lipstiknya. Diva terlalu ironis
dengan menjadi model sekaligus prostitute,
sedangkan Elektra terlalu cuek buat jadi
perempuan dan memiliki kekuatan listrik ? Apa
yang melatarbelakangi karakter seperti itu?
Saya tidak menempatkan tokoh tipikal begitu
sebetulnya lebih kepada kebutuhan cerita itu
sendiri. Kebetulan, saya memang belum ada
kepentingan kreatif dengan tokoh yang dianggap
stereotipe ‘berbedak & berlipstik’ tadi. Lagipula,
definisi feminin menurut saya bukan terletak pada
riasan atau busana. Feminitas menurut saya
adalah energi. Banyak laki-laki yang energi
femininnya lebih besar daripada perempuan,
walaupun mereka laki-laki normal, dan juga
sebaliknya dengan perempuan. Diva memang
tokoh paradoks yang mengartikan
kemerdekaannya berbeda dengan paham
kebanyakan, sementara Elektra itu karakter gadis
lugu, indoor, kuper, dan sering diremehkan.
Karakter saya biasanya terlahir dari kebutuhan
cerita dan konflik atau pesan yang ingin saya
ungkapkan.
Seperti apa sih perempuan Indonesia saat ini di
mata Dee? Terutama buat para remaja dan
gadis puber hehehe…
Agak susah ya bicara perempuan Indonesia,
karena disparitas sosial kita sangat luas, jadi
bicara perempuan kota tertentu tidak bisa
mewakili semua perempuan Indonesia. Jadi saya
mau batasi opini ini khusus untuk perempuan
kota besar. Menurut saya, cewek-cewek sekarang
lebih ‘aware’ tentang banyak hal, dari mulai
penampilan, kesehatan, kecantikan, seksualitas,
dan kesempatan atau peluang yang mereka
punya. Saya cuma berharap otentisitas dan
keunikan masing-masing perempuan masih bisa
mencuat keluar meskipun arus trend dan selera
massal itu susah sekali dibendung. Harus lebih
kritislah terhadap segala usaha generalisasi,
pengotakan, dan stereotipikalisasi, yang setiap
harinya menggempur kita lewat media,
lingkungan, dsb. Kadang-kadang kok saya
ngelihat cewek-cewek sekarang kayak seragam
semua. Hehe.
Jika digambarkan dalam novel Supernova,
seorang Dee itu berada pada karakter siapa?
Sepertinya saya ada di semua karakter saya, atau
tepatnya mereka mengandung ‘pecahan-pecahan’
saya. Tapi tidak ada satu khusus yang saya desain
untuk mewakilkan diri saya. Ada yang bilang saya
kayak Elektra, ada yang bilang saya kayak Bodhi, dsb.
Tapi sebetulnya pada semua karakter itu saya titipkan
‘pesan’ dan ‘pecahan persona’ saya, walaupun mereka
juga adalah karakter independen yang punya persona
dan pesan sendiri.
Btw, lebih memilih mana nih karir antara seorang
penulis atau penyanyi?
Saya sih selama ini tetap menjalani keduanya, cuma
proporsinya berubah-ubah sesuai dengan konteks dan
situasi. Saya lebih banyak menulis memang, karena
kondisi punya anak dan keluarga. Kalau menyanyi
persiapannya lebih ribet dan menyita waktu, jadi saya
lebih banyak di menulis dulu. Tapi namanya juga
insting musiknya tetap ada, satu saat pasti balik lagi
ke musik juga, tinggal tunggu momen dan
kesempatannya saja.
Bagaimana sih rasanya menjadi seorang ibu
sekaligus penulis dan penyanyi serta istri dari
seorang biduan sukses? Apakah hal yang didapat
itu sudah cukup atau ada ambisi lain lagi?
Rasanya? Asyik! Hehe. Lumayan sibuk, yang jelas.
Tapi berhubung Marcell juga satu dunia` dengan
saya, jadi saya lebih bisa memahami seluk-beluk
kerjaannya, bisa kasih opini, bisa nyumbang lagu,
dsb. Jadi kayak partner kerja juga. Sejauh ini saya
sudah merasa sangat beruntung bisa melakoni hobi
sebagai profesi, tidak terlalu terikat, bisa mengatur
waktu sendiri, dan berkenalan dengan orang-orang
kreatif. Rasanya saya sudah mantap di kedua jalur ini,
menulis dan musik, hanya tinggal perluasan audiens
dan terus berkarya.
Kapan nih rilis buku atau album terbarunya lagi?
Kira-kira bocorannya bakal bertema seperti apa?
Ada dua proyek yang sekarang dikerjakan: Supernova
Partikel dan Rectoverso. Tapi sepertinya yang
Rectoverso yang bakal kelar duluan. Itu proyek
eksperimental saya, yakni menggabungkan dua dunia
saya sekaligus dalam satu karya: sebuah kumpulan
cerita dengan CD lagu. Masing-masing karya bisa
dinikmati secara terpisah tapi secara tema keduanya
adalah satu. Ada 10 lagu yang liriknya saya gubah
menjadi 10 cerita pendek. Keduanya akan dikemas
jadi satu produk buku/cd.
SIGI WIMALA : Modern Life Is Rubbish
Ok, definisi wanita modern menurut Sigi?
wanita yang capable untuk strive and survive in this hectic world, knowing what
she wants and gets what she wants – ambitious and a hard worker. dalam konteks
“dengan cara yang halal”.
Hey, so what’s going on with “Tentang Dia”? sepertinya agak sedikit
heterosexual ya film-nya?
ehm… well dunno really, don’t we live in a heterosexual world??
errr.. maksudnya karakter lu di film itu tuh ambigu, lesbian or straight gituu..
but that’s ok. Itu Pengalaman akting pertama lu ya?
yep, that was my first…..
Ada rencana untuk maen film lagi?
well, dunno for sure, maybe ..
Denger-denger kerja di architect firm juga yah..modeling sepertinya ga akan
work out kalau sudah cukup berumur, isn’t that true?
well not really, but basically modelling has been kind to me and i am what i am
now partly because of this profession, but i have dreams, i have goals, and this is
one of em…. being an architect.
Ya, banjir memang sucks, tapi apa boleh buat, kita kan hidup di Negara dunia
ke-3. Planning on buying some jet-ski’s?
well “sampan” will do for now…hahahahaha
Don’t you hate working 9 to 5?
depends on what i’m working rite?
Ok, apa lu ke kantor pake perahu juga kaya orang laen?
well i dunno, tapi aku ke kantor biasanya pake jeans ama t-shirt…. and my small
loyal honda jazz. hahahaha
hey seharusnya bayar tuh haha.. mmmhhh..What is your passions in life?
good designs, food and travel.
What is your definitions of living life to the fullest?
doing what you love and try to be the best in that matter……
Ever kissed a girl?
Yeah!
Seberapa besar pengaruh keluarga dalam karir lu?
huge… they’re my “genset” secara kita dari tadi mention about jakarta banjir,
rite?…. now they’re my back up when i have no power to get thru this so called
“complicated” life. cieee, bahasanya…
So, apa ada beberapa hal yang merubah hidup lu, seperti film atau musik?
people… meeting inspiring people…..and good music. it could drive your day….
Ok, for those boys who want to ask you out, ada beberapa syarat?
ada.. be normal… thats it.
Haha. Let’s put it this way, ada seorang cowok cakep yang ngajak lu nge-date,
tapi ternyata di mobil dia memasang lagu Black eyed peas dan dia memakai
baju pussycat dolls. Would you go out with him?
well i could just say… i think fergie’s freakin hot, I don’t actually “love” their music,
and about the tshirt – i’ll ask him to take his clothes off..isn’t that what dates are
for, hahahahaha..
Ada beberapa pengalaman menarik saat modeling di luar negri?
ada… tons actually… don’t wanna be bothered to tell you guys.
oh rahasia nih ya? Mmmhh.. suka hang-out dengan model-model lain?
nope
Pilih mana, rocker atau esmud?
both
Justin atau prince?
Justin-lah… but i don’t mind borrowin prince’s wardrobes….
here we are..last question: what’s next for
Sigi Wimala?
get married, travel around the world, and conquer the world.
SAR
Let’s skip the bullshit and go with the interview.
Ok.
let me rephrase you for the readers, a heavy metal chick, fashion-core
fashionista, guitar player, and internet freak. We’re wondering, ada
rencana buat clothing line?
yes, I’m launching a clothing line with a photography project, it’s called
“apathy williams” and it’ll be available both in Sydney and in Jakarta.
Sebenernya ini clothing line buat cewe, soalnya di Jakarta kurang ada
clothing companies khusus buat girls, but there will be some stuff available
for boys as well.
btw, sepertinya kamu senang sekali difoto, apakah selalu dengan
fotografer yang sama?
hehe iya, the photographer who takes most of my photos is my good friend
Ewink, hi s photography inspi res me. . check him out !
www.myspace.com/ewink and http://ewink.deviantart.com
Sudah bergabung dengan Suicide Girls?
no, I’ve met a few SG’s in LA though, but I’d never become a SG.. malu bugil
didepan camera man !
sepertinya goth memainkan peran yang cukup besar dan sangat
mempengaruhi kamu, have you done any sacrifice lately? Like eating
bats or drinking rabbits blood?
No, I prefer eating humans. I had a human heart for breakfast this morning.
Yummyyyy.
mmm berbicara tentang kelinci mengingatkan saya pada Donnie
darko. Ok, mari berandai-andai, Kalo jake gylenhaal menyatakan cinta
nya dan kamu sedang single, what would you do?
I would do anything for that man. He’s so beautiful.
even if he likes to sleepwalk and burning houses?
Like I said, ANYTHING!
coba rekomendasikan beberapa film dan musik yang tepat
menjelang Halloween..
Iron Maiden and of course Scream. You gotta go with the classics.
No, I was thinkin’ more about Misfits or Sabbath for halloween..
lalu bagaimana dengan slasher movies? Do you like ‘em?
yes, I love them, even if they’re really bad..
oh ya, bagaimana dengan band kamu, Dead maya?
kita lagi vakum karena gue lagi sekolah di Sydney.. tapi tenang ! Deadmaya
bakal release album tahun ini, and we’re definitely not dead yet !
rilisan? sudah ada label yang tertarik?
we’re in post-recording progress, and releasing it indie.
kemarin temen gue ada yang baru ditato “tim burton” di punggung nya.
tertarik untuk melakukan hal yang sama?
hah? namanya? maybe not soalnya nama dia kayak nama bapak-bapak. tapi
kalo gue tattoo nama dia mungkin dia bakal kasih gue main di filmnya hmm
so why not? hahaha
ini pertanyaan ke-tiga belas. Having any bad luck recently?
Iya, kemaren gue jalan ama temen gue ke kota, tiba-tiba ada hujan gede..
kita harus jalan kaki balik ke apartment soalnya kita lupa bawa payung &
kita ga bawa uang sama sekali untuk taxi dan bus !
whoa, that’s too fucking bad. So, kamu kan sekolah Sydney, gimana nih
musik dan fashion disana? Berbeda jauh dengan Jakarta? Let me take a
wild guess, they listened more of indie-rock maybe?
There’s a wide range of fashion in Sydney, orang disini ga begitu ngikutin
trend-trend kaya djakarta.. the fashion is eclectic and there’s lots of
different styles. Disini orang cuek banget, mereka ga peduli kalo pakain
mereka aneh atau terlalu over.. it’s all about individuality !
mmm, terus kalau fashion statement kamu sendiri apa?
Be yourself! I don’t have a fashion statement, I just wear what I want. Fashion is
self-expression.
yang ini cukup aktual: pendapat lu tentang emo-haters?
I feel sorry for them. Music is universal, it should be about the music that is
played not about the people that listen to it.
yeah, mereka bahkan tidak tahu Fugazi, Jade Tree dan Sunny Day Real
Estate, so how come they hate something that they don’t even know?
people who are ignorant hate what they don’t understand or don’t know. It’s just
too bad that there are a lot of ignorant people these days.
pernah berpikir untuk membunuh sesorang?
no, no, no hahaha. I’m a peaceful person man!
Suicide?
It’s normal to think about it when you hit a low point in your life.. it doesn’t make
you crazy or sadistic, it only makes you normal.
Ok, mari kita kembali ke pertanyaan yang lebih ringan.. seberapa narsiskah
kamu?
Very. Come on man! they call us the myspace generation! shut the fuck up and
take a picture of yourself and post it on the internet.
kamu tidak minum dan tidak merokok, so what’s your addiction? What’s
your vice?
Ice cream. Sometimes me and my boyfriend sit down and finish an ice cream
container in 5 minutes, or we go to an ice cream place at 12 at night and buy it.
When we first started dating we spent an hour talking about how much we love
ice cream. Our love was born from ice cream and now we are fat. If I could take a
bath in ice cream I would. So there.. it’s not booze, not cigs, not drugs.. it’s
fucking ice cream!
SANGGAR PUSPITA : DJ 80s-Riot
Berawal dari sebuah sanggar senam, bagaimana Sanggar Puspita,
kumpulan DJ yang muterin lagu 80-an membuat “kerusuhan”.
R: Ripple
SP: Sanggar Puspita
R: Kan dulu ada band tahun 70-an namanya
pakai Puspita juga kan…kenapa dipilih?
SP: Dara puspita. Cewe semua bertiga kayak AB
three. Karena kita cewek-cewek jadinya puspita.
Kalo cowok purwanto
)
R: Kenapa kalian jadi pengen Sanggar Puspita?
Sanggar apaan ya?
SP: Sanggar senam sih awalnya tapi di disko.
Senam malam-malam. Senam ajojing. Lama-lama
kita gak puas cuma senam doang. Makanya
merambah ke dunia disko dan DJ.
R: Siapa aja nama DJ nya?
SP: Tanya = Wulan, Uti= Putri, Une= Dewi
R: hahahha.. ga berubah banyak namanya…
SP: Emang nama kita. Cuma kita pilih yang 80an,
yang lebih jadul aja.
R: Terus kenapa musti 80-an?
SP: Jiwa nya kesitu sih dari dulu. Kita emang
dasar nya suka lagu 80an.
R: Emang kalian udah lahir ya pas film mas
boy?
SP: Udah lah… Mas Boy itu idola kita banget.
Ganteng tajir baik budi tidak sombong, ciuman
langsung solat, sayang mas boy diambil mbak
Paula:) tapi sekarang udah ga oke ah. Masih oke
an Ikang Fauzi. Oya kita juga kan generasi NKOTB
(New Kids On The Block).
R: Kira-kira kebiasaan 80-an apa aja yang
diterapin sampe sekarang?
SP: Sedih, baju yang sangat norak, warna warni,
bibir merah, ngeceng…hahaha… rambut kriting
kodrat itu mah eh itu bukan kebiasaan ya?
Hahaha… jjs, disko, karaoke!!!!
R: Bulu ketek dipanjangin ga?
SP: kadang-kadang. Gak pernah sepanjang Eva
Arnaz sih. Tapi suka ga boleh sama pacar
hahahaha…
R: Siapa yang berani pake celana baggie ???
SP: Brani kooo… sapa takut!
R: Kalo kalian hidup di taun 80-an… akan jadi
cewe matre ngga? ![]()
SP: Oh iya doonk! biar bisa temenan ama mbak
Vera. Tapi sekarang juga mau, cuma belom ada
kesempatan aja
R: Pengen cowonya yang kaya gimana?
SP: Mas boy gilaaaaaa. Kayak gue bilang tadi
udah mah baik budi dan tidak sombong, jagoan
lagipula pintar. Pasti nya cing. Tajir. Siapa tak
kenal dia? Beken abis. Fenomenal.
R: Kalian percaya kalo ternyata lagu-lagu
kalian adalah sumber kerusuhan?
SP: Sebenernya sanggar puspita hampir mewakili
karakter cewek-cewek. Tanya itu bagian yang
nengahin suatu masalah jadi kalo ada masalah
pasti dia yang maju sedangkan Une itu bagian
bikin masalah, sumbu dari kekacauan hahaha…
jadi saling melengkapi. Oh yah, waktu itu
pernah ada orang yang gak suka kan ama kita.
Menurut gw sih bukan sumber kerusuhan ah…
orang-orangnya aja yang rusuh. Ada yang rusuh
karena terlalu bahagia mungkin denger apa
yang kita maenin. Ada yang rusuh karena ga
suka padahal kita kan mengajak mereka senam,
kok malah rusuh ya? Aneh. Tapi bukan sanggar
puspitanya kok yang bikin rusuh. Bahan-bahan
yang tercampur dalam minuman mereka deh
kayanya yang bikin rusuh hehehe…
R: Film yang mempengaruhi Sanggar Puspita?
SP: Catatan Si Boy 1-5
R: Kan sekarang susah nih nyari lagu-lagu
80an. Cari di mana ya?
SP: Oh jangan sedih, kita punya supplier khusus
lagu 80an. Untung temen-temen kita oke- oke
banget. Kita ketemu di multiply, meskipun
harus hunting sana sini hahaha… Oh yah, ada
seseorang yang lengkap banget koleksi lagu
80an. Namanya Yuan. Sampai punya cover
kaset-kasetnya segala. Dulu-dulu sih kita
ngelilingin MD-MD. Telpon sana sini, hunting ke
rumah oknum-oknum yang koleksi lagunya
banyak.Yang sampe sekarang belom dapet tuh
koleksi filmnya. Pengennya sih tiap kita maen
ada visual film-film tahun 80an gitu.
R: Underwear 80an kayak gimana sih?
SP: Kalo Uti dan Une lebih ceria. Yang pasti
belom ada hipster. trus pinggirannya lebih tinggi.
R: Kalian pake ngga? ![]()
SP: Kalo kita lagi main sih pake.
R: Alkohol?
SP: Sampai sekarang sih kita masih minum alcohol
untuk menemani. Meski kita udah mulai agak jauh
dulu ama alcohol karena pengen nyoba minum susu
kuda liar.
R: Kalo pengen ngundang Sanggar Puspita
kontaknya ke siapa sih?
SP: Ok, namanya Chicha a.k.a. Ritha denga nomor
ponsel 08122047099.
R: Playlist kalian:
SP:
1. Catatan Si Boy – Ikang Fawzi
2. Final Count Down- Europe
3. Bis Kota – Godbless
4. Bohong 2D
5. Astaga – Ruth Sahanaya
6. Aku Suka Mau Suka – Trio Libels
7. Village People- YMCA
8. Hey Mickey Tony Basil
9. Blame it On The Rain- Mili Vanilli
10. Borju – Neo
Check:
www.myspace.com/sanggarpuspita
WE LOVE YOU LADIES!
Uhmmm… tidak ada sedikitpun maksud buruk dari saya untuk
menulis tentang perempuan-perempuan luar biasa di bawah ini. Tidak ada maksud melecehkan, menghina, atau bahkan
mengeksploitasi. Terlepas dari status mereka yang dicap sebagai bit**,
whor*, ataupun hook**, oleh kebanyakan masyarakat yang terbelenggu
oleh ‘norma-norma’ yang mereka buat sendiri. Perempuan-perempuan
ini adalah sosok-sosok kuat dengan pendirian teguh untuk melakukan
apapun yang mereka anggap benar. Mungkin mereka memang sosoksosok
marjinal yang seringkali dilecehkan, tapi apa mereka peduli
dengan semua itu? Saya rasa tidak, mereka terus eksis berkarya,
menghibur, atau terserah bagaimanapun cara kamu menilainya. Enjoy.
Maria Ozawa a.k.a Miyabi
Rasanya lebih banyak yang lebih
mengenal Maria Ozawa dengan
sebutan Miyabi. Yeah, akhir-akhir
ini, tampaknya ‘aksi’ Ozawa
memberikan sensasi tersendiri
bagi para penikmat Adult Video (AV)
di luar sana. Mulai berkecimpung dalam dunia AV pada usianya
yang ke 20 (dia lahir pada tanggal 8 Januari 1986 di Jepang),
Maria Ozawa langsung menjadi hit di kalangan pecinta AV di
Jepang. Ozawa memang memiliki tampang yang cukup eksotis
kerena dia adalah blasteran Jepang-Prancis-Kanada (yang
mungkin merupakan nilai tambah dibandingkan bintangbintang
lokal kebanyakan, haha). ‘Miyabi’ sebetulnya adalah
gelar yang diberikan oleh industri AV di Jepang untuk aktris
dengan penjualan dan rating tertinggi, dan selama 2 tahun
berturut-turut Ozawa memegang gelar tersebut dari 21 buah
video dan 2 buah gravure (photo album dengan pakaian seksi,
tapi tidak menampilkan pose telanjang) yang telah dilakoninya
sejak awal karirnya pada tahun 2005 bersama S1 (Japan AV
Company). Mulai bulan April 2007 ini, Ozawa meninggalkan S1
dan bergabung dengan Dasdas (other AV Company) sebagai
production company barunya, dan kabarnya dia akan
menampilkan adegan-adegan yang lebih ‘hebat’ lagi. Hmm..
can’t wait to see it. Ah, sebagai info tambahan, Ozawa adalah
seorang heterosexual.
Jenna Jameson
Jenna Marie Massoli atau Jenna Jameson
sangat dikenal luas sebagai porn star yang
mendulang banyak kesuksesan selama
karirnya. Mulai membuat film porno
karena pacarnya selingkuh pada tahun
1993, Jenna menembus industri AV
Amerika pada film pertamanya bersama
Nikki Tyler dalam video ‘Up and Cummers
10′ dan ‘Up and Cummers 11′ (rilis tahun
1994). Jenna mendirikan Club Jenna (AV
company) pada tahun 2000, dan diikuti
dengan pembuatan reality show ‘Jenna’s
American Sex Star’ di Playboy TV yang
menjadi ajang kompetisi bagi mereka yang
ingin terjun ke dalam industri AV. Tahun 2004, Jenna
membuat buku autobiografi kontroversial berjudul ‘How to
Make Love Like a Porn Star: A Cautionary Tale’, dan menjadi
The New York Time Best Seller selama enam minggu.
Selama karirnya, Jenna telah mendapatkan lebih dari 30
penghargaan, termasuk Adult Video News (AVN) Hall of
Fame pada tahun 2006. kritikus AV menobatkan video
‘Brianna Loves Jenna’ (2003) sebagai AV terbaik sepanjang
karirnya di industri ini. You better see dudes!
Tera Patrick
Lahir dengan nama Linda Ann
Hopkins Shapiro, Tera Patrick
menjadi salah satu jaminan mutu
aktris AV yang setiap videonya
selalu memiliki nilai jual tinggi.
Yeah, bagaimana tidak, dengan postur
tubuh yang ideal dan tampang Asia
(Ibunya orang Thailand), Tera Patrick
sangat dikagumi oleh para pencinta AV
karena desahan dan gerakan tubuhnya
yang sangat ’seksi’, hmmm. Tera Patrick
mulai berpose telanjang dan sedikit-sedikit muncul di AV pada akhir
tahun 90′an, dan mulai menembus hard-core porn video, ‘Aroused’,
yang kemudian sangat mengangkat namanya di industri ini sampai
menjadi cover talent di majalah Playboy dan Penthouse sebagai ‘Pet of
the Year runner-up’
Pada tahun 2000. Tahun 2004, Tera menikah dengan Evan Seinfeld
(vox/bassist Biohazard) dan membuat sebuah production company
bernama ‘Teravision’, yang juga sebagai berfungsi sebagai agen
penyalur aktris dan aktor baru yang berniat untuk berkecimpung di
industri hiburan.
Jade dan Nyomi Marcela
Ahhh, akhirnya kita ketemu bintang ’semi lokal’
yang go international, hahaha. Jade dan Nyomi
Marcela adalah keturunan Indonesia-Amerika yang
berkecimpung di industri AV sejak tahun
1996. Jade adalah kakak dari Nyomi
yang usianya berbeda setahun.
Meskipun mereka bukan AV actress
yang stand out dan membuat video-video
Paris Hilton
Yeah, yeah, dia adalah artis ‘mainstream’ yang pasti
dikenal semua orang. Penerus tahta ‘Hilton Family’
yang kekayaannya mungkin nggak akan habis
sekalipun dia berfoya-foya selama 24 jam setiap
hari. Dan dia juga nggak perlu menunggu tanggal
muda untuk bisa membeli berbotol-botol Jack
Daniels, dan nggak perlu bolak-balik memeriksa harga
menu dan dompet saat makan malam di restoran,
bahkan, dia mungkin nggak perlu bayar. Sangat dikenal luas
sebagai bintang dalam reality show ‘The Simple Life’ bersama
Nicole Richie, Paris mulai memperlihatkan sisi ‘bad girl rules’ nya dengan membuat
‘home sex video’ bersama mantan pacarnya, Rick Salomon. Video yang beredar
luas melalui internet pada tahun 2003 ini oleh para netter jahil diberi judul ‘1
Night in Paris’. Yeahh.. mungkin untuk Paris Hilton, video itu bisa menjadi kredit
tersendiri untuk menembus industri AV suatu saat nanti. You rocks girl!
Mihiro Taniguchi
Sebetulnya tidak banyak data yang
saya dapat tentang aktris yang satu
ini, kecuali beberapa koleksi pribadi
teman-teman saya yang selalu dimulai
dengan kredit ‘Mak Erotzzz Present’ jika
diputar di windows media player. Beberapa judul
yang saya tahu pun paling hanya Mihiro Max Café 1,2,
dan 3. Kelebihan aktris AV asal Jepang yang satu ini, dia
mempopulerkan budaya costume play (cosplay) di hampir
setiap filmnya. Terkadang dia berpakaian seragam sailor,
biaraw ati, suster, dan banyak lagi. selain itu, Mihiro sangat adorable
dengan menampilkan mimik wajah yang sangat cute dan ngegemesin, hahaha. Seperti
halnya idol-idol asal Jepang yang membuat AV legal, bagian tubuh yang vital pasti
akan disensor (seperti juga Miyabi), yang terkadang membuat frustasi para penikmat
AV. Meskipun begitu malah jadi makin penasaran kan?
Anash
dikota apa kamu tinggal?
Jakarta
nama panggilan?
Anash
Profesi?
student,finalis gadis sampul 2004
Rutinitas sehari-hari yang paling disenangi?
hang out wid my friends,dreaming
bagian tubuh kamu uang mana yang paling
kamu suka ? kenapa?
I think…my eyes,because ada yang bilang it’s nice
bagaimana kamu ‘attract’ a man?
be myself,lebih care ke dia,and make he feels
comfort
hal apa yang paling penting yang harus dimiliki
seorang perempuan?
atitude,how da way she can replaces herself in
many condition.
apa hal yang terindah yang pernah kamu
alami?
i find Bombi.dia selalu ada waktu gw
sedih/senang:)
apa hal yang terindah yang pernah laki2 beri ke
kamu?
kita pernah ke luar kota berdua,dan kita buta
jalanannya,harus nginep dimana,bla3x.tapi tetep
aja nekat,sampai the day before we back,kita baru
enjoy our holiday.
apa hal terindah yang pernah kamu beri ke
laki2?
dia pernah kabur dari rumah sampai uangnya
habis,akhirnya gw samperin ke daerah rumahnya
dia,gw beliin dia sebungkus rokok,karena gw tau
dia pengen banget ngerokok,ternyata dia seneng
banget dan it won’t be forgt buat dia:)
what is a ‘gentle touch’ for you?
when someone said,”i love ya”
Bagaimana kamu ingin diperlakukan/dimengerti oleh laki-laki?
simple.gw gaq suka cowo suka bohong aja,and gaq
gampang emotional,that’s all.
apa yang terlintas kata-kata ‘BIG’ buat kamu..
hmphh…
* he has a big thing inside
* big laff for ya,beyb !
jika laki-laki memandang kamu, bagian tubuh mana yang kamu ingin mereka lihat?
Kenapa?
eyes.so i can see them clearly
what is an inner beauty for you? Do you think you have one?
inner beauty ?
buat gw,cewe ga harus mak aup setebel mungkin,cos dia menarik karena shes got the
atitude,and she can make everyone comfort with her.
kamu suka kecepatan tinggi kalau sedang di setirin sama pacar kamu?
lebih cepat lebih baik,seru !isnt it ?
apa yang membuat adrenalin kamu naik?
when someone lying me
makanan apa yang paling kamu suka? Ibarat apa makanan favorit kamu itu?
Sushi
jika ada seorang laki laki datang sekarang, apa yang kamu mau dari dia/apa yang
kamu ingin dia lakukan?
.kalau sekedar teman,ya ajak makan,ngobrol aja
kalau pacar,langsungg ciuum !
musik yang kamu dengerin?
the radio debt,elastica(sometimes),fiona apple,the organ,le-tigre(sometimes),royksopp
apa yang kamu suka dari kehidupan laki-laki?
Because they’r free,
honestly..karena mereka ga ngerasain rasanya mens,hamil
Brittni Celeste
Dikota apa kamu tinggal?
jakarta
nama panggilan
Brit / Celeste
Profesi
Pelajar / musisi
Rutinitas sehari hari yang paling di senangi
dengerin music. music is my life, my soulmate, my drug
Bagian tubuh kamu yang mana yang paling kamu suka ? kenapa?
punggung gw soalnya ada tato yangmencerminkan diri gwa
Bagaimana kamu ‘attract’ a man?
dengan “personality” gwa..selain itu.. hmmm “you tell me..”
Hal apa yang paling penting yang harus dimiliki seorang perempuan?
perempuan harus bisa “independent.”
Apa hal yang terindah yang pernah kamu alami?
banyak sichh.. krn gwa orangnya suka menghargai hal-hal apa aja: apapun ituw positif or
negatif.
Apa hal yang terindah yang pernah laki2 beri ke kamu.
jujur and setia.
What is a ‘gentle touch’ for you?
for me, a gentle touch is like a puzzle piece, it’s like a final piece that makes a person
complete.
Bagaimana kamu ingin diperlakukan/dimengerti oleh laki-laki?
Gwa pengen cowo ituw jujur, respect, perhatian and hargain gwa.
Apa yang terlintas kata-kata ‘BIG’ buat kamu..
hmmm.. tauu dong sndiri.. Hahaha..
Jika laki-laki memandang kamu, bagian tubuh
mana yang kamu ingin mereka lihat? Kenapa?
wahhh.. bingung tuww~!!
What is an inner beauty for you? Do you think
you have one?
I think everyone has inner beauty, because thats
what makes one person special and different from
another.
Kamu suka kecepatan tinggi kalau sedang di
setirin sama pacar kamu?
biasa aja.. tp tergantung sichh.
Apa yang membuat adrenalin kamu naik?
cowo yang bisa nyanyi and main alat music; apa
lagi kalo “bad boy.” Hehe..
Makanan apa yang paling kamu suka? Ibarat apa
makanan favorit kamu itu?
seafood; fried calamari.. (X
Jika ada seorang laki laki datang sekarang, apa
yang apa yang kamu mau dari dia/apa yang
kamu ingin dia lakukan?
Gwa mau dia ambil gitar and nyanyiin lagu
ciptaanya sendiri.
Musik yang kamu dengerin?
banyak. rock n roll, jazz, lounge music, harcore
stuff, new wave, pokonya anything yang enak di
dengerin dechh!! hehe..
Apa yang menghangatkan badan dan hati kamu?
yang menhangatkan badan and hati gwa.. kalau
gwa tau cowo yang gwa sayang, sayang balik ke
gwa.
NEIGHBOURHOOD FROM HELL!!
TAHANAN-KAW.PANTAI SELATAN
TAHANAN 264 terbentuk pada awal tahun 2000.“Dengan ketekunan kami sering latihan di rental studio musik, dan konser di dalam dan luar kota, seperti Cikarang, Gombong, Purworejo, Jogja”. mereka sangat dikenal di kalangan musik underground Jawa Tengah . ”kami sudah mengganti nama band itu menjadi TAHANAN aja, gak pake 264 “tandas Sidex. para personil tersebut terdiri dari benk-benk (vocal),Sidex (lead guitar & back vocal),Yono (guitar & back vocal) , Ipoel (bass), dan yang terakhir Basuki (drum). mereka sudah merilis rekaman (demo album). jenis aliran musik mereka adalah rock & roll punk (rockabilly maybe? ed), ada juga yang instrumental saja ”demo album kami ada 13 lagu yang menceritakan scene kami. kami sering konser juga di dalam dan luar kota seperti Kroya, Gombong, Magelang Salatiga, Parakan, dan Purworejo sendiri,” kata benk-benk.mareka sangat terkenal di kawasan jalur pantai selatan. saat benkbenk main di daerah Kroya,ia tersandung masalah narkoba dengan pihak berwenang. tetapi mereka tetap eksis di dunia musik underground ,”kami tetap main musik ,dunia tanpa musik akan terasa hampa , kami tetap memperjuangkan keadilan “tandas basuki.itu konsep pikiran lagu para personil TAHANAN .[sidiq.s.s] What we say: semoga masalah narkoba tidak membuat mereka ditahan dan mudah-mudahan bisa manggung di kota kamu..
PAINKILLER-JAKARTA
Founded in 2003 by singer/guitar player and composer, Tashea Delaney, PAIN KILLER used to play heavy tracks by Metallica and Iron Maiden. In 2005, she started to write her own composition which was influenced by many styles, ranging from metal to pop. Ayi the awsome bass player does an outstanding job in keeping the groove pounding in the songs from his bass guitar! Alfa (since has left the band), soon join the band’s line-up bringing his metal riff’s and in your face performance. The amazing result is shown in their first album with an intense opener of Fatamorgana, continued with Curse of Love that begin with a slower tempo and climbing up, blended with a poppy chorus. Ilusi, Kebebasan, and Friday Nite featured a thumping groovy rhythm with a fat sound of thrashy riffs and ripping guitar solos. My Deceptions is their strongest track with a smart mixed of ethnic background, dark atmosphere, and thundering down-tuned riffs while Of My Own is an interesting Avril-Lavigne- pop-ballad approach with a lyric of depressive loneliness. The sound quality is unquestionable, engineered by Krisna Sadrach, the experienced and famous frontman of SUCKER HEAD, PAIN KILLER’s first album offers a unique musical style with a balanced of old-school-influenc ed and modern-day metal. This is the one you don’t want to miss in your collection if you’re a true metal addict. [painkiller] What we say: sebuah band metal dengan frontman (atau woman??) seorang perempuan yang talented. Mereka cukup menjanjikan.
Coba cek materi mereka di: www.myspace.com/painkillerband
DEADSQUAD – JAKARTA
Pada awalnya band ini berdiri sejak bulan Februari 2006 dan merupakan sebuah band project yang memainkan lagu2 dari band oldschool metal seperti Slayer,Anthrax,Pantera dan Sepultura.pada saat itu berpersonil : Stev Eks Step Forward ( Gitar ), Ricky Seringai & Step Forward ( Gitar ) , Bonny Tengkorak (Bass) dan Andyan Siksa Kubur (Drum) , ternyata ricky tidak bisa bertahan lama karena kesibukannya di Seringai, Step Forward dan pada pekerjaannya.
Untuk mengisi kekosongan pada posisi gitar pada bulan Juni 2006 Prisa ( Zala ) masuk mengisi Gitar utk menggantikan ricky dan setelah mencari dan meng-audisi beberapa vokalis akhirnya pada posisi vocal, NEIGHBOURHOOD FROM HELL!! words.mr.avalanches photos.ripple documents DeadSquad mendapatkan Babal ( Alexander ) pada bulan Oktober 2006. Personil Dead Squad sekarang adalah Babal ( Vox ), Stev ( Gitar ), Prisa ( Gitar ), Bonny ( Bass ) dan Andyan ( Drum ). Musik DeadSquad terinfluence dari mulai Slayer, Sepultura, Old School Thrash Metal Sampai ke Lamb Of God, Martyr AD dan Black Dahlia Murder dengan Campuran Death Metal. [dead squad] What we say: mmhh another metal band dengan additional gitar nya Sheila On 7? Skill para personil tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi mungkin bakal dibandingkan dengan Dead Maya d a n P a i n K i l l e r .
C o b a c e k : www.myspace.com/pasukanmati
Habis Gelap Terbitlah Terang, Entah Kapan….
Nama saya Gadis, saya ingin menjadi laki-laki.
Menjadi perempuan itu membosankan, gender
kelas dua. Saya ingin menjadi laki-laki dengan
segala kenomorsatuannya.
Saya ingin menjadi laki-laki karena mereka
mempunyai kebebasan yang lebih daripada
perempuan. Seorang filsuf mengatakan bahwa
manusia memiliki kehendak bebas, saya ingin
merasakannya. Saya ingin bebas merokok di
mana saja, kapan saja, tanpa harus dibilang
perempuan murahan atau semacamnya. Saya
ingin bebas untuk pulang larut malam, atau
bahkan tidak pulang selama beberapa hari
seperti teman-teman saya yang keluar masuk
kamar saya saat tengah malam sekalipun, tanpa
beban, tanpa dikhawatirkan keluarganya,
karena mereka laki-laki. Paling-paling mereka
hanya takut digunjingkan tetangga. Ah,
sebenarnya itu tidak masalah karena mereka
akan dianggap teman kakak saya. Mereka akan
mengaku sebagai teman kakak saya,
sebagaimana teman-teman perempuan kakak
yang disuruhnya untuk mengaku sebagai teman
saya. Kakak saya memang pintar, dia laki-laki.
Laki-laki itu pintar, efektifitas kerja otak mereka
mengagumkan. Laki-laki itu pintar berkelit!
Berkelit itu hal yang mengagumkan, apalagi
ketika kita menghadapi masalah yang sulit.
Berkelit menurut saya membutuhkan kepintaran
yang luar biasa. Coba bandingkan dengan
perempuan ketika dalam keadaan tersudut, hal
terakhir yang dapat kami lakukan hanya
menangis! Bukankah akan sangat
menyenangkan kalau kita pintar berkelit, rasarasanya
masalah apapun dapat kita lewati hanya
dengan berkata-kata manis dan akal bulus. Saya
ingin menjadi laki-laki yang pintar berkelit.
Laki-laki pintar memuaskan kami di tempat
tidur. Itu penting karena kami pun sebetulnya
mengejar kepuasan, bukan hanya sebagai objek
saja seperti image yang selama ini melekat di
diri kami. Laki-laki tahu tentang beragam gaya
dan teknik bercinta yang dahsyat. Lagi-lagi
karena mereka bebas, bebas untuk membeli
beragam referensi tentang
bagaimana bertingkah
laku di tempat tidur.
Coba kamu lihat di
sekeliling kamu,
sekarang ini banyak
sekali yang dapat
dibaca/didengar/ditonto
n oleh laki-laki untuk
menjadi seorang pejantan
yang berkualitas, ehm..
khususnya di tempat
tidur. Sedangkan
kami hanya
sibuk
untuk
menjadi seperti apa yang ditulis di majalah-majalah
mode dan gaya hidup khusus perempuan, menjadi
cantik dan anggun, tepat seperti apa yang
diinginkan para laki-laki. Menunggu mereka
mempraktekan pengetahuan mereka yang luas
tentang seks.
Kebebasan adalah motivasi paling besar saya untuk
menjadi laki-laki. Perempuan dengan penampilan
dan kelakuan urakan akan dipandang sebagai hal
yang tidak wajar, atau yang lebih parah memalukan
dan tercela. Tapi seorang laki-laki, penampilan
seperti itu adalah fashion, attitude, dan kami
menganggapnya keren. Terlalu banyak aturan yang
menjadi batasan atas apa yang harus kami pakai
dan kami lakukan.
Saya adalah headbangers sejati, namun untuk
menjadi personil band metal hampir tidak
memungkinkan bagi saya yang terlahir sebagai
perempuan. Saya ingin seperti para personil bandband
metal yang dengan gagahnya bertelanjang
dada di atas panggung, meneriakan provokasi
dengan kata-kata kasar yang anehnya justru
mengagumkan. Sedangkan kami hanya diijinkan
untuk tampil manis di atas panggung sekedar
membawakan musik pop atau alternatif yang tidak
terlalu keras. Tidak adil ketika laki-laki boleh
merambah semua jalur musik yang ada, tapi kami
perempuan dikotakan kepada jenis musik tertentu.
Saya ingin berteriak keras-keras, bertelanjang dada
lalu membantingkan gitar saya ke lantai panggung!
Ah, pasti menyenangkan! Tapi sudahlah
lupakan saja, saya bukan lakilaki.
Habis Gelap Terbitlah Terang, Entah Kapan….
words.unfamous awake
Saya bosan menjadi perempuan. Saya ingin
merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang
yang bebas memilih cintanya. Saya bosan
menunggu para lelaki itu menyatakan cintanya,
meskipun seringkali mereka tidak memberikan saya
cinta, mereka hanya ingin tubuh saya. Perempuan
akan dihakimi sebagai seorang yang tidak
berperasaan ketika menolak cinta seseorang yang
biasa saja dan memilih laki-laki yang kebetulan
mapan secara materi atau tampan secara fisik.
Seorang perempuan juga akan dianggap sebagai
perempuan gampangan ketika mencoba
menyatakan cinta kepada seorang laki-laki yang
benar-benar disukainya. Lagi-lagi kebebasan yang
kami dapat tidak setara dengan apa yang laki-laki
dapatkan.
Saya ingin seperti laki-laki yang bisa sebebasbebasnya
menyalurkan emosi. Saya ingin berkelahi
saat amarah sudah tidak tertahankan lagi.
Memukul, menendang, mengamuk hingga wajah
lebam dan darah mengucur. Puas dan lega. Tapi itu
tidak bisa saya lakukan karena saya akan dianggap
sebagai perempuan liar. Saya lelah hanya mampu
menangis tanpa bisa menyelesaikan masalah.
Saya capek berpanjang lebar karena pada akhirnya
saya hanya akan dianggap sebagai feminis. Saya
capek mendengar kata diskriminasi dan emansipasi.
Untuk apa semua itu kalau akhirnya saya tetaplah
seorang perempuan, si gender nomor dua. Saya
bukannya tidak mensyukuri keberadaan saya
sebagai seorang perempuan. Saya hanya bosan
diperlakukan tidak adil karena saya seorang
perempuan yang jauh dari kesetaraan.
Hello! Do you have some news you want to contribute to and that you think our readers might also find interesting? We are planning to open our blog in a few weeks and I have already bookmarked some of your posts. Best wishes, Peter