ఇండోనేషియా Uncool సంగీతం ఇండస్ట్రీ | RIPPLE MAGAZINE

ఇండోనేషియా Uncool సంగీతం ఇండస్ట్రీ

Killbite : Deadmaya

DEADMAYA is the next glowing star di dunia musik Indonesia atau malah Internasional. Karena kabar terakhir yang saya dapat sebelum saya memulai tulisan ini, Deadmaya sudah beberapa kali diajak untuk rekaman di luar negeri dan bahkan ketika menjadi band pembuka di launching album Superman Is Dead, seorang producer dari Canada bilang “I Love this band! It’s pretty cool..”

Killbite : Hollywood Nobody

Hollywood Nobody

Sebuah fakta yang menarik bahwa kebanyakan musisi dan band yang masih perduli akan karya dari pada kepopuleran dan materi adalah datang dari kalangan indie. Salah satu band yang memainkan musik yang mereka sukai, adalah Hollywood Nobody grup oktet yang 85,68% anggotanya berasal dari Makassar yang memainkan musik bossa nova lengkap dengan instrumen perkusi dan biola.

Semilyar Tahun Cahaya Kemudian

Semilyar Tahun Cahaya Kemudian

Semilyar tahun cahaya adalah jarak yang kamu tempuh bolak-balik dari bumi ke jupiter, itupun sempat singgah-singgah dulu. Main lompat tali sama kelinci di bulan, ice skating di pluto, dan minum susu sepuasnya di milky way. అబ్బా!, itu juga belum dihitung saat kamu tersesat di blackhole karena lupa dibekali peta saat kamu lepas landas dari bumi. Perjalanan pergi seperti mimpi dan saat pulang waktu seperti berhenti dan abadi. Tapi tentu saja apa yang akan kusampaikan berikut ini tidak ada hubungannya dengan luar angkasa.

Formula Sejuta Kopi

Formula Sejuta Kopi

“The whole music business in the United States is based on numbers, based on unit sales and not on quality. It’s not based on beauty, it’s based on hype and it’s based on cocaine. It’s based on giving presents of large packages of dollars to play records on the air.Frank Zappa

Karakteristik Band Indo

Karakteristik Band Indo

Seperti apa karakter band-band lokal dalam menghadapi industri musik Indonesia? Sebenarnya pertanyaan ini menjadi garis besar kita dalam menguak apa yang terjadi dengan Industri musik Indonesia. Beberapa dari kita mungkin sepakat bahwa band-band mainstream sekarang sudah terlalu membosankan. Tentunya kita kangen dengan breakthrough yang dilakukan beberapa band indie beberapa tahun kebelakang ketika Koil dan Mocca memborbardir dunia musik kita waktu itu. Mungkin salah satu indikasinya yaitu tampilnya

LA Lights Indie Fest 2006

LA Lights Indie Fest 2006
Survivor of The Fittest

BandungSurabayaYogyakarta telah dikenal sebagai penghasil band-band indie dengan kualitas terbaik. Didorong oleh apresiasi masyarakat yang kian besar, LA Lights Indiefest diharapkan mampu menjadi medium agar band indie dapat menunjukan tajinya di jagat musik Indonesia.

Endless Pain

Endless Pain
Requiem For Scumbag

“Kemaren tuh saya udah punya firasat ga enak banget. ‘ga biasanya tiba-tiba pengen dengerin radio lalu tiba-tiba ada orang yang request lagunya Burgerkill. Dalam hati saya bilang, “dasar orang ‘ga tau diri. Tau engga sih dia kalo vokalisnya lagi sekarat di rumah sakit.”

Australasian D.I.Y. Tour Circuit

Australasian D.I.Y. Tour Circuit

Selama ini kita mengenal bahwa konsep DIY memang menjadi landasan bagi setiap band independen. Rasanya kata DIY menjadi kalimat sakti bagi para band independen untuk melakukan segala sesuatu termasuk tur. Tak pelak ditengah modernitas musik yang kian menggila saat ini, memudahkan band-band untuk pergi tur kemanapun mereka mau. Jika saja band kita sekelas Coldplay, hanya tinggal tunjuk sana tunjuk sini kota yang akan disinggahi buat tur. అయితే, situasinya tentu berbeda jikalau kita adalah sebuah band bermodal kecil dan tak pernah masuk MTV. Keinginan tur ke luar negeri adalah sesuatu yang sangat sulit. Masalah utamanya tentu uang/ modal, penginapan, akomodasi, transportasi dsb. Biaya tur ke luar negeri tersebut tentu membutuhkan biaya yang amat luar biasa besar. Kini solusi tersebut sudah mulai bisa dipecahkan. Seperti yang dilakukan oleh seorang scenester asal Australia, Shaun. Ia adalah seorang scenester yang sudah terlibat dalam scene punk di Australia sejak tahun 80-an.

MP3 Trader

MP3 Trader
Free Music Makes Legal

Sebuah pola dan kultur baru di dunia musik. Sebenarnya kultur ini sama halnya dengan fenomena cassette culture yang berkembang di kultur punk tahun 1970-an. Cassette culture itu sendiri suatu pola budaya yang menggunakan interaksi si artis dengan fans melalui media kaset. Ketika itu, format compact disk memang belum begitu populer. Beberapa band punk/hardcore DIY menggunakan kaset sebagai media penyampai pesan mereka. Caranya adalah dengan istilah “a blank tape plus self address envelope”. Jadi, si fans hanya tinggal mengirimkan sebuah kaset kosong dengan amplop yang tertulis alamatnya dia sendiri dan mengirimkannya ke alamat si artis. Dengan begitu si artis tinggal merekam lagu-lagunya ke kaset kosong tersebut dan mengirimkannya kembali ke alamat si fans itu. Semuanya hanya dengan cuma-cuma. FREE!!!

Give me real don’t give me fake ….

Give me real don’t give me fake ….
COLDPLAY twisted logic tour 2006
Singapore Indoor Stadium 10 July 2006 8.00 pm

Sore itu, ketika perasaan sudah tak sabar pergi ke tempat konser saya dan teman-teman sudah berada di venue… dan ternyata orang-orang disana tidak seantusias kami. Jam 6 sore pun masih sepi.. yup Sing people selalu on time. Di area venue saya seperti nongkrong di wahana PRJ, orang-orang Indonesia mendominasi di sana, dari mulai anak kuliahan sampai seleb kelas atas Indonesia..

The Kooks

The Kooks
Angry Four Horse-Boys

The Kooks adalah salah satu dari sekian banyak band pendatang baru Inggris yang menampakkan kecemerlangan lewat lagu-lagunya berakar pada Brit Pop Punk. Mereka adalah pemuda asal Brighton dengan selang umur antara 18 sampai dengan 22 tahun yang sama-sama menyukai musik The Rolling Stones, Bob Dylan dan David Bowie.

Jelly Belly

Jelly Belly
Mimpi Yang Sem(u)purna

Mimpi. Kata itu menjadi kunci wacana kita dalam menguak Jelly Belly. Setidaknya Inai adalah sosok wanita pemimpi sejati. Ketika ditanya tentang apa yang ada di pikirannya ketika membentuk Jelly Belly. Ia menjawab bahwa band ini sebagai realisasi dari mimpi-mimpi semunya. Tentunya sebagai salah satu personil lama yang tersisa, Inai memiliki banyak mimpi-mimpi dengan Jelly Belly. “Karena pengen mewujudkan mimpi-mimpinya Inai yang disalurkan melalui Jelly Belly,” katanya tentang obsesi dirinya pada Jelly Belly. Tak hanya Inai, begitupula dengan Aduy, sang gitaris, yang memiliki banyak mimpi untuk Jelly Belly. “Pingin terus main di gigs dan orang-orang ingin mengapresiasi lagu kita bahwa kita nggak seperti Cherry Bombshell,” kata Aduy dengan lugas menjawab mimpi Jelly Belly yang belum terealisasikan.

Lily Allen

Lily Allen
A Foulty Mouth Who’sBetter Than Your MySpace Girls

Lily Allen dilahirkan sebagai hasil hubungan antara pelawak Inggris Keith Allen dengan produser film bernama Allison Owen. Saat umurnya 4 tahun, kedua orang tua Lily berpisah dan membuatnya harus berpindah-pindah kota serta pindah sekolah sebanyak 12 kali. Saat umurnya mencapai 15 tahun, Lily pergi ke Ibiza bersama keluarganya untuk berlibur. Di sana ia mengaku akan tinggal dan menetap di rumah temannya. Padahal sebenarnya ia menyewa kamar di hostel dan bekerja di sebuah record shop sambil menjual ecstasy kepada clubbers. Di Ibiza pula lah Lily bertemu dengan A&R bernama George Lamb yang mengenalkan dirinya pada produser Future Cut yang segera tertarik untuk membuat background musik untuk lirik dan lagu yang diciptakan oleh Lily.

Painkiller

Painkiller

Dengan frontgirl yang masih sangat belia, band ini cukup di kenal di kotanya sendiri; Jakarta. Dan sekarang mulai merambah mencuri perhatian nasional. Bermain di wilayah rock memang sudah menjadi pakem yang mengalir di band ini. Maaf apabila interview ini didominasi bahasa Inggris [maklum, bule x)]. Well, apabila anda merasa demam, pusing dan mual akibat terlalu banyak terkontaminasi limbah industri pop kreatif, “minum” saja “obat” yang satu ini. PAIN KILLER. Semoga lekas sembuh.

Disconnected

Disconnected
eksistensi mereka kini kembali lagi

Stay Low and Keep Those Feet Moving adalah bukti eksistensi dari Disconnected. Setelah hampir sekitar empat tahun menghilang, setidaknya mereka merasakan bahwa EP ini akan menjadi titik tolak kembalinya mereka. “Bayar hutang karena udah hampir sekitar 4 tahun Disconnected nggak bikin rilisan,” kata Ari, gitar dan vokal dari Disconnected. Maksud hutang di sini adalah tenggat waktu yang lama (4 tahun) terhitung dari album pertama Inside Out rilisan My Own Deck Records yang dirilis sekitar tahun 2002. Mereka seolah ingin menyambungkan kembali eksistensi mereka di galaksi musik independensi saat ini lewat EP Stay Low and Keep Those Feet Moving tersebut. “Yah, karena hampir 4 tahun Disconnected menghilang dan nggak bikin rilisan. Tadinya mau bikin full album namun ada perubahan jadi hanya EP saja,” ujar Decil, drummer band yang sudah membuat satu

Share:

  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry
  • wp socializer sprite mask 16px Indonesian Uncool Music Industry